Trip ke Pantai Teluk Asmara, Raja Ampat Malang Selatan

Jam menunjukkan pukul 4 pagi, namun Google Map mengatakan perjalanan menuju ke Pantai Teluk Asmara masih terbilang jauh. Rencana kami sedikit melenceng karena Lando, yang memimpin perjalanan berangkat, memilih jalan yang salah hingga sampai ke kota Dampit. Padahal kalau berdasarkan Google Map rute yang seharusnya dituju tidak perlu melewati kota Dampit. Alhasil kami putar balik dan waktu tempuh menjadi lebih lama lagi.

Dari kota Dampit giliran saya yang memimpin jalan di bantu oleh Deni yang memberikan navigasi pada saya. Berdasarkan arahan Google Map kami dibawa kembali ke daerah Turen untuk kemudian melewati rute ke arah pantai selatan Malang. Dan benar saja, setibanya di daerah Turen ternyata jalan yang kami tempuh tadi bertolak belakang. Dari Turen perjalanan ke Pantai Teluk Asmara kurang lebih memakan waktu 1 jam.

Oh ya, trip ke Pantai Teluk Asmara ini saya lakukan bersama delapan teman, yaitu Lando, Evan, Adit, Deni, Tasya, Sandra, Bela, dan May. Kami sepakat pergi pada tanggal 1 Juni karena merupakan hari libur dan yang masuk kerja bisa ikut. Agar perjalanan menuju ke Pantai Teluk Asmara nyaman, kami memutuskan untuk menggunakan dua mobil.

Kurang lebih kami tiba di gerbang masuk Pantai Teluk Asmara pada jam 6 pagi. Di gerbang masuk ini kami membayar biaya retribusi sebesar Rp. 10.000/orang di tambah Rp. 15.000 untuk setiap mobil (Weekend Juni 2018). Begitu turun dari mobil, udara dingin adalah hal pertama yang saya rasakan. Ini pertama kalinya bagi saya merasakan udara dingin ketika mengunjungi pantai. Mungkin karena saat itu saya datang saat masih pagi dan jalur menuju ke Pantai Teluk Asmara tergolong daerah perbukitan.

Dari parkiran menuju ke area pantai kurang lebih berjarak 100 meter. Letak parkiran yang lebih tinggi dari pantai membuat saya bisa melihat area pantai dari ketinggian. Pemandangan yang disuguhkan sangatlah indah. Dari atas sini dapat terlihat bahwa terdapat dua pantai di Pantai Teluk Asmara ini. Kedua pantai tersebut di pisahkan oleh daratan batu karang yang menjorok ke lautan.

A post shared by Egi Eligius (@egieligius) on

Karena datang pada pagi hari, pantai Teluk Asmara masih sangat sepi. Hanya ada rombongan kami dan beberapa orang saja. Seperti biasa saat datang ke pantai, hal yang pertama saya lakukan adalah berfoto-foto terlebih dahulu. Untuk itu kami memutuskan untuk pergi ke pantai yang sebelah timur terlebih dahulu karena lebih sepi dibandingkan pantai sebelahnya.

Di pantai sebelah timur ini, pemadangan yang tersaji adalah pulau-pulau berbagai macam ukuran nampak di kejauhan. Matahari yang belum begitu tinggi masih terlihat tersembunyi di balik bukit. Saat kami datang, sepanjang pantai masih dipenuhi oleh sampah-sampah laut seperti daun-daun dan batang pohon. Namun lambat laun dengan semakin siangnya hari, sampah-sampah laut itu pun kembali lagi ke laut dan pasir pantai yang lembut terbebas dari sampah-sampah tersebut.

A post shared by Egi Eligius (@egieligius) on

Puas berfoto di pantai sebelah timur, kami selanjutnya pergi ke pantai yang sebelah barat. Meskipun berada di satu kawasan Pantai Teluk Asmara, pantai di sebelah barat ini memiliki nama lain. Nama dari pantai ini adalah Pantai Bangsong. Kemungkinan nama Pantai Bangsong ini adalah nama sebelum nama Pantai Teluk Asmara diresmikan oleh pemerintah setempat.

Di Pantai Bangsong ini ombaknya sedikit lebih tenang di bandingkan pantai tetangganya. Hal tersebut dikarenakan di tengah-tengah Pantai Bangsong ini terdapat sebuah pulau yang cukup besar ukurannya. Kehadiran pulau tersebut memecah ombak yang datang dari samudra sehingga ombak yang menuju ke pantai jauh lebih tenang. Meskipun tergolong tenang, namun pengelola setempat tidak menganjurkan bagi pengunjung untuk berenang di kedua pantai ini. Papan larangan untuk berenang pun di pasang di berbagai sisi untuk mengingatkan pengunjung agar lebih berhati-hati. Namun jika untuk bermain air di pinggir pantai tidak dilarang oleh pengelola.

Di Pantai Bangsong inilah kami memutuskan untuk bermain air karena ombaknya yang lebih tenang. Keuntungan jika datang pagi ke pantai adalah pantai belum begitu ramai. Saat kami bermain air hanya ada beberapa pengunjung selain rombongan kami di Pantai Bangsong ini. Dengan sedikitnya pengunjung saya juga tidak begitu khawatir ketika meninggalkan barang-barang berharga di pinggir pantai agar tidak basah oleh air laut.

Untuk fasilitas, kamar bilas dan toilet cukup banyak ditemui. Yang menarik bagi saya adalah di area pantai tidak ada satupun warung atau pedagang asongan yang berjualan. Menurut informasi yang saya dapat, area Pantai Teluk Asmara ini masuk dalam kawasan perhutani sehingga ditetapkan aturan tidak boleh ada yang berjualan di area pantai. Warung maupun pedagang diperbolehkan berjualan di area parkir saja. Dengan tidaknya ada pedangang maupun warung Pantai Teluk Asmara tergolong bersih dan tidak begitu banyak sampah. Sampah yang adapun merupakan bawaan dari pengunjung dan ditempatkan di tempat sampah yang sudah disebar di area pantai.

Setelah bilas dan bersih-bersih badan, bapak penjaga kamar bilas menyarankan kepada saya untuk tidak lupa mengunjungi bukit pandang. Bukit pandang adalah salah satu titik di kawasan Pantai Teluk Asmara untuk melihat area pantai dari ketinggian. Untuk dapat ke sana kami harus trekking sekitar 10 menit dari area pantai. Daripada nanggung, saya mengajak rombongan untuk mencoba ke sana dan yang ikut hanya anggora rombongan yang cowok saja. Dan yang cewek memutuskan untuk menunggu di parkiran.

Meskipun tidak terlalu jauh, ternyata menuju ke bukit pandang cukup melelahkan juga. Ternyata jalurnya sangatlah menanjak. Namun lelah tersebut terbayarkan ketika sudah sampai di bukit pandang. Pemandangan pulau-pulau di sekitaran Pantai Teluk Asmara begitu indah dipandang oleh mata. Keindahan pemandangan pulau-pulau tersebut yang membuat Pantai Teluk Asmara juga disebut sebagai Raja Ampat-nya Malang Selatan. Jika saja saya tau lebih awal maka saya memutuskan untuk datang ke bukit pandang terlebih dahulu sebelum matahari belum begitu tinggi.

Saat saya ke sana, di bukit pandang ini sedang ada proses pembangunan beberapa bangunan. Mungkin kedepannya di bukit pandang ini terdapat gazebo agar pengunjung lebih nyaman. Puas berfoto-foto, kami memutuskan kembali ke area parkiran untuk mengisi perut yang lapar di sebuah warung untuk kemudian melanjutkan perjalanan kami kembali ke kota Malang.

Tinggalkan Balasan