Taman Nasional Baluran yang Mempesona

Destinasi terkahir kami di trip Banyuwangi kali ini adalah Taman Nasional Baluran. Destinasi wisata ini menjadi salah satu alasan kenapa saya ngebet untuk melakukan trip ke Banyuwangi. Alasan ditaruh di akhir karena biasanya yang terakhir adalah yang spesial. Dan juga karena rute untuk menuju Taman Nasional Baluran searah dengan jalan pulang ke Surabaya.

Kami baru meninggalkan kota Banyuwangi dan menuju ke Taman Nasional Baluran pada jam 1 siang. Dari kota Banyuwangi untuk sampai ke Taman Nasional jaraknya tidak terlalu jauh. Kurang lebih kami hanya memakan waktu satu jam untuk sampai ke pintu masuk Taman Nasional Baluran. Di pintu masuk ini kami harus mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk. Tiket masuk yang kami bayar harganya sebesar Rp. 17.500/orang dan Rp. 15.000 untuk biaya parkir mobil (weekend April 2018).

Begitu memasuki kawasan Taman Nasional Baluran, kami disambut dengan pemandangan hutan evergreen. Istilah evergreen tersebut disematkan karena hutan di Taman Nasional Baluran selalu hijau sepanjang tahun. Pohon-pohon yang tumbuh tinggi dan daun-daunnya yang lebat tumbuh disepanjang jalan seakan membentuk sebuah terowongan di beberapa titik. Pemandangan hutan tersebut mendominasi perjalanan kurang lebih 13 kilometer.

Jarak 13 kilometer sebenarnya memang tidak terlalu jauh. Namun jalan yang berbatu dan tidak rata memaksa mobil kami berjalan sangat pelan untuk menghindari lubang dan memilih jalan yang cukup rata untuk dapat dilewati. Sepanjang perjalanan, tak jarang saya melihat beberapa satwa khas Taman Nasional Baluran turun ke jalan. Satwa tersebut diantaranya adalah golongan burung dan ayam-ayam hutan. Menurut petugas yang berada di gerbang pintu masuk, jika beruntung pengunjung dapat menemui macan hutan di perjalanan. Namun hal tersebut sangat kecil kemungkinannya dan jarang sekali terjadi.

Setelah kurang lebih satu jam kami berada di dalam hutan, mobil kami akhirnya sampai ke Savana Bekol. Padang savana ini luasnya kurang lebih 40% dari luas wilayah Taman Nasional Baluran. Di padang savana inilah pengunjung berkesempatan untuk dapat melihat kawanan rusa, banteng, dan satwa herbivora lainnya yang tinggal di dalam Taman Nasional Baluran. Saat saya ke sana, bisa dibilang saya kurang beruntung. Saya tidak melihat kawanan rusa ataupun banteng yang berkumpul dan berlarian di tengah padang savana. Saya hanya melihat beberapa rusa yang sedang merumput sendirian dan beberapa banteng yang tengah menuju ke sumber air untuk minum.

Banyak pengunjung yang turun dari kendaraannya dan menuju ke dalam pada savana. Sebenarnya terdapat batas kawat yang tingginya sebetis orang dewasa yang memisahkan padang savana dengan jalan taman nasional. Saya juga tidak mengerti apakah batas itu untuk menghimbau pengunjung agar tidak masuk ke savana, atau membatasi agar satwa tidak turun ke jalan. Namun sepanjang penglihatan saya, dan saya lakukan juga pada akhirnya, banyak pengunjung yang melewati batas kawat itu dan masuk ke dalam padang savana.

A post shared by Egi Eligius (@egieligius) on

Banyak spot-spot foto ikonik dari Padang Savana Bekol. Salah satunya adalah pohon yang digunakan untuk syuting video klip lagu Raisa yang berjudul Jatuh Hati. Lalu ada papan penanda “Welcome to Savana Bekol” dengan latar belakang Gunung Baluran. Ada juga tengkorak dari banteng maupun rusa yang dipajang didekat parkiran mobil dari Savana Bekol ini. Dan tentu masih banyak lagi yang lainnya.

A post shared by Egi Eligius (@egieligius) on

Keasyikan berfoto-foto di Savana Bekol, kami tidak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Karena kami harus melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya, yang masih harus ditempuh 8 jam lamanya, kami mengurungkan diri untuk mengunjungi Pantai Bama. Padahal Pantai Bama jaraknya sudah tidak jauh lagi kalau dari Savana Bekol. Mungkin di lain kesempatan saya akan berkunjung lagi ke Taman Nasional Baluran dan tidak ketinggalan untuk mengunjungi Pantai Bama-nya.

Perjalanan kembali dari Savana Bekol menuju pintu masuk area Taman Nasional Baluran sama-sama membutuhkan jarak tempuh selama satu jam. Ketika sampai di area pintu masuk hari sudah mulai gelap dan kami bergegas untuk segera melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Dengan begitu trip saya dan teman-teman di Banyuwangi pada tanggal 13-15 April selesai begitu kami meninggalkan kawasan Taman Nasional Baluran.

*Nb

Trip ini merupakan rangkaian dari:

Tinggalkan Balasan