Perjuangan Menuju Teluk Hijau Banyuwangi yang Berbuah Manis

“Dari sini, kira-kira perjalanan masih sekitar satu jam,” Michael memberitahu kami ketika mobil meninggalkan jalan aspal dan mulai masuk ke jalan makadam. Jalan ini merupakan satu-satunya akses untuk menuju ke destinasi kami, yaitu menuju Teluk Hijau. Padahal dari jalan tersebut sudah lebih dari setengah jarak tempuh dari kota Banyuwangi menuju ke Teluk Hijau. Jalan yang berbatu terpaksa membuat mobil yang kami kendarai berjalan perlahan-lahan.

Mobil kami berguncang ke kiri dan ke kanan mengikuti kontur jalan. Saya yang duduk di bangku depan berusaha agar tidak terlelap untuk menemani Michael yang menyupir. Di bangku belakang, Esti, Yulanda, Gilang, dan Danny terlihat memejamkan mata. Saya tidak tau apakah mereka benar-benar terlelap atau sedang berusaha untuk terlelap. Perjalanan darat dari Surabaya ke Banyuwangi yang kami tempuh selama 9 jam, ditambah dengan perjalanan dari Banyuwangi ke Teluk Hijau yang kurang lebih 2 1/2 jam tentu membuat kami kelelahan.

Kami berangkat dari Surabaya pada hari Jumat 13 April malam, dan tiba di Banyuwangi pada pagi buta di hari Sabtu 14 April. Dari Banyuwangi kami tidak langsung melanjutkan perjalanan. Kami singgah dulu di rumah Michael, yang memang orang asli Banyuwangi, untuk beristirahat dan sedikit mengembalikan tenaga kami. Setelah (belum benar-benar) segar, kami melanjutkan perjalanan ke Teluk Hijau.

“Kalau kata warga lokal, memang sengaja tidak dibikin aspal. Biar maling mikir kalau mau nyolong di sini,” terang Michael yang memang sudah beberapa kali ke Teluk Hijau. Di jalan makadam ini memang tidak terdapat pemukiman warga. Sepanjang jalur, di kiri dan kanan jalan dapat dijumpai berbagai macam kebun dan hutan. Diantaranya yang dapat saya sebutkan adalah kebun pohon coklat, hutan pohon karet, perkebunan tebu, dan lain sebagainya. Berbagai macam perkebunan dan hutan tersebut masuk ke dalam wilayah Perum Perhutani dan Perkebunan Nusantara.

Kami baru merasakan kembali jalan beraspal ketika memasuki perkampungan warga dan mobil dapat dipacu sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Perkampungan tersebut tidaklah terlalu besar dan jalan beraspalnya juga tidaklah panjang. Panjangnya kira-kira hanya satu kilometer saja. Selepas dari jalan aspal perkampungan, mobil kembali lagi ke jalan makadam. Untung saja dari perkampugan tersebut Teluk Hijau sudah tidak jauh lagi. Kira-kira 20 menit dari perkampungan tersebut, kami tiba di pos pintu masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri.

Di pos pintu masuk, masing-masing dari kami diharuskan membayar tiket masuk seharga Rp. 7.500 ditambah dengan karcis mobil seharga Rp. 10.000 (April 2018, hari libur). Kami yang menggunakan mobil diarahkan ke Pantai Rejagwesi untuk memarkir kendaraan. Di sekitar Pantai Rejagwesi terdapat perkampungan yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan. Namun nelayan-nelayan di sini juga menyewakan kapalnya untuk mengantar wisatawan yang hendak pergi ke Pantai Teluk Hijau.

Sebenarnya ada dua cara yang dapat digunakan wisatawan untuk sampai ke Pantai Teluk Hijau. Yang pertama adalah menggunakan jasa perahu dari para nelayan. Cara yang pertama menghemat waktu dan tenaga. Dengan membayar Rp. 35.000/orang, wisatawan sudah mendapatkan layanan antar jemput dari Pantai Rejagwesi ke Teluk Hijau, begitu juga sebaliknya. Namun cara yang pertama tersebut tidak selalu tersedia. Jika ombak sedang tinggi dan angin sedang kencang-kencangnya, para nelayan tidak berani untuk mengantarkan para wisatawan dengan alasan keselamatan. Maka dari itu terdapat cara yang kedua, yaitu dengan berjalan kaki atau treking. Dengan cara treking, wisatawan diharuskan berjalan kaki kurang lebih 45 menit dari Pantai Rejagwesi untuk sampai ke Pantai Teluk Hijau. Saya tidak tau pasti, tapi dari informasi yang saya dapat, jalur treking tersebut sudah ditata dengan baik oleh pengelola.

Perahu nelayan yang digunakan untuk mengantarkan wisatawan ke Pantai Teluk Hijau

Dengan alasan untuk menghemat tenaga kami memilih menggunakan jasa perahu nelayan. Saat di bibir pantai, ketika hendak naik ke perahu, jujur saja saya sedikit gugup. Tipikal pantai selatan pulau Jawa pada umumnya, ombak di sini tergolong besar. Saya yang jarang sekali berlayar menggunakan perahu kecil cukup takut melihat ombak bergulung yang amat besar. Ada saja pikiran paranaoid yang muncul seketika di kepala. Untung saja perahu-perahu yang digunakan terdapat penyeimbang kapal di sisi kiri dan kanan. Selain itu pengunjung juga mendapatkan rompi pelampung atau life vest. Hal tersebut cukup membuat kegugupan saya sedikit berkurang.

Perahu mulai meninggalkan bibir pantai, melawan arus ombak. Meskipun begitu perahu masih berlayar cukup tenang. Dari Pantai Rejagwesi untuk sampai ke Pantai Teluk Hijau, jalur yang dilewati perahu adalah memutari daratan batu karang yang menjorok ke laut. Saat berbelok dan hendak melewati di batu karang tersebut, barulah ombak terasa besar dan ganas. Layaknya roler coster, penumpang perahu dihentak ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan. Namun masih dalam batas yang wajar karena saat itu cuaca sedang baik dan cerah. Cipratan air laut sudah tidak bisa kami bendung. Bahkan ketika masih di dalam perahu, sebagian pakaian kamu sudah basah oleh air laut.

Ombak sedikit lebih tenang ketika berada di sisi lain dari batu karang. Setelah melewati batu karang, baru terlihat Pantai Teluk Hijau dan Pantai Batu. Kedua pantai tersebut dipisahkan oleh daratan batu karang yang menjorok ke lautan. Di sisi ini, air laut masih terlihat biru layaknya warna air laut pada umumnya. Namun ketika mendekati arah pantai, air laut perlahan-lahan berubah warna menjadi kehijauan. Dari perahu perbedaan warna air laut di Teluk Hijau dapat lebih terlihat. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, warna hijau pada pantai ini disebabkan karena adanya alga di dasar perairan yang memantulkan warna hijaunya ke permukaan perairan. Warna hijau pada teluk ini sangat jelas karena air laut di Teluk Hijau masih bening dan bersih.

Saat perahu hendak menepi ke Pantai Teluk Hijau, bapak nelayan meminta kami untuk berpegangan dan perahu dipacu sedikit lebih kencang. Ternyata untuk menepi kapal tinggal meluncur saja dari laut ke bibir pantai. Begitu perahu berhenti dengan mantab, segera kami melompat keluar perahu. Pasir pantai yang bersih dan halus menyambut kaki saya. Jika dari perahu pandangan saya mengarah ke daratan, maka ketika tiba di pantai pandangan saya mengarah ke lautan. Pemandangan yang tersedia di depan mata saya sunggulah sangat indah. Rasa lelah yang saya dapatkan dari perjalanan belasan jam seakan sirna oleh keindahan tersebut. Sontak saja saya langsung mengeluarkan kamera untuk mengabadikan keindahan dari Pantai Teluk Hijau.

Letaknya yang berada di teluk membuat ombak di Pantai Teluk Hijau tidak terlalu besar. Namun tetap saja pantai ini tidak dapat digunakan untuk berenang atau snoerkeling. Papan tanda larangan untuk berenang terpasang di beberapa titik untuk mengingatkan wisatawan. Meskipun begitu, jika hanya untuk bermain ombak di bibir pantai masih diperbolehkan oleh penjaga yang bertugas di Pantai Teluk Hijau. Asalkan tetap dalam kondisi waspada dan berhati-hati akan keselamatannya sendiri.

Saat kami ke sana, Pantai Teluk Hijau sedang ramai-ramainya oleh wisatawan. Jelas saja karena kami memang datang saat siang hari dan juga akhir pekan. Namun seramai-ramainya Pantai Teluk Hijau, menurut saya masih dalam batas wajar. Dalam artian pantai tidak dipenuhi oleh ribuan manusia yang memenuhi bibir pantai. Sehingga wisatawan dapat lebih leluasa untuk bermain ombak dan berfoto-foto ria.

Di bagian timur pantai, terdapat sebuah air terjun terletak persis di pinggir pantai. Mungkin karena saya datangnya saat mulai memasuki kemarau, maka debit air terjun tersebut terbilang kecil. Air terjun tersebut tingginya sekitar 8 meter. Di bawahnya terdapat kubangan air tawar yang dikelilingi oleh pasir pantai. Jika air musim hujan debit air dari air terjun tersebut akan lebih besar. Biasanya air terjun ini digunakan oleh wisatawan untuk membilas diri sesudah bermain ombak di pinggir pantai.

Tembok batu di sebelah kanan adalah air terjunnya. Saya lupa untuk memotretnya secara langsung.

Sebagian besar waktu di sini kami gunakan untuk berfoto-foto. Puas berfoto-foto di Pantai Teluk Hijau kami menyempatkan untuk mampir ke Pantai Batu yang letaknya memang hanya di sebelah dari Pantai Teluk Hijau. Berbeda dari Pantai Teluk Hijau yang pantainya di penuhi oleh pasir, sesuai namanya Pantai Batu bibir pantainya dipenuhi oleh bebatuan mulai dari yang kecil dan besar. Konon, batu-batu tersebut terbawa dari dasar laut oleh tsunami yang terjadi sekitar tahun 1994. Sehingga batu-batu tersebut menutupi permukaan pantai yang berpasir. Tak banyak yang bisa dilakukan di Pantai Batu ini selain berfoto-foto. Kami kemudian memutuskan untuk kembali ke Pantai Teluk Hijau.

A post shared by Egi Eligius (@egieligius) on

Di Pantai Teluk Hijau dan Pantai Batu tidak terdapat fasilitas untuk memanjakan wisatawan. Fasilitas seperti warung makan, toilet, kamar mandi untuk bilas, dan lain sebagainya semuanya hanya terdapat di Pantai Rejagwesi. Pengelola mungkin memang sengaja membuat demikian untuk menjaga kelestarian dan kebersihan dari kedua pantai tersebut. Di beberapa titik terdapat beberapa tempat sampah yang dapat digunakan wisatawan untuk membuang sampahnya. Namun menurut saya jumlahnya tidak terlalu banyak di pantai seluas itu. Atau mungkin saja pengelola berharap agar wisatawan yang datang kembali membawa pulang sampah-sampahnya agar tidak mencemari kebersihan dari Pantai Teluk Hijau dan Teluk Batu.

Bagi saya, pergi ke pantai tidak lengkap rasanya jika tidak terkena hantaman ombak. Setelah menemukan tempat yang pas untuk menaruh barang, segera saja saya langsung berlari ke bibir pantai untuk bermain ombak. Tindakan saya tersebut diikuti oleh Danny. Keempat teman yang lain lebih memilih untuk duduk-duduk saja menikmati pantai dengan cara mereka sendiri.

Keasyikan saya dan Danny dihentikan oleh Michael yang mengingatkan kami kalau waktu sudah menunjukkan jam 3 sore dan sebaiknya kami segera meninggalkan Pantai Teluk Hijau. Alasannya karena batas jam penjemputan oleh perahu nelayan maksimal adalah jam 4 sore. Kalau mau sampai sore di Pantai Teluk Hijau sebenarnya tidaklah dilarang. Hanya saja untuk kembali ke Pantai Rejagwesi pilihan satu-satunya adalah dengan cara trekking. Mendengar alasan tersebut tentu saja saya dan Danny segera menghentikan aktivitas kami bermain ombak.

A post shared by Egi Eligius (@egieligius) on

Sambil menunggu datangnya perahu yang menjemput kami, saya dan Danny berusaha untuk mengeringkan diri. Meskipun badan terasa sangat lelah saat itu batin saya merasa bersyukur karena dapat sampai di Teluk Hijau. Perjalanan panjang dari Surabaya dapat saya katakan berbuah manis sesuai dengan harapan kami masing-masing. Namun saya berusaha untuk tidak berpuas diri dulu karena trip saya belum berhenti hanya di Pantai Teluk Hijau saja Perahu jemputan pun datang dan siap mengantar kami kembali pulang ke Pantai Rejagwesi.

*Nb
Trip ini merupakan rangkaian dari:

Tinggalkan Balasan