Parade Bunga dan Pawai Budaya Kota Surabaya, 7 Mei 2017

Memasuki bulan kelima, kota Surabaya dipenuhi dengan beragam acara yang meriah setiap minggunya. Bulan Mei merupakan bulan yang spesial bagi warga kota Surabaya. Karena pada bulan Mei kota yang memiliki lambang ikan Sura dan Buaya ini merayakan ulang tahunnya. Pada tahun 2017 ini kota Surabaya genap berusia 724 tahun.

Selama tinggal di Surabaya, yang artinya sejak saya lahir, jujur saja saya belum pernah merasakan secara langsung semarak kemeriahan perayaan ulang tahun kota kelahiran. Maka dari itulah pada tanggal 7 Mei kemarin, saya menyempatkan diri untuk menghadiri acara Parade Bunga dan Pawai Budaya yang merupakan salah satu rangkaian acara perayaan ulang tahun kota Surabaya ke-724. Parade Bunga dan Pawai Budaya ini diselenggarakan mulai dari Tugu Pahlawan hingga mencapai garis finish di Taman Bungkul.

Awalnya saya berencana untuk datang lebih pagi dan menempatkan diri di depan Gedung Grahadi untuk mendapatkan spot foto yang bagus. Hanya saja kebiasan begadang saya menyebabkan saya bangun kesiangan. Saya baru berangkat dari rumah pada pukul 11.00 siang. Padahal acara Parade Bunga dan Pawai Budaya berakhir pukul 13.00. Jadilah saya memutuskan untuk menuju ke garis akhir di Taman Bungkul.

Datang di siang hari menyebabkan saya kesulitan untuk mencari lokasi yang bagus untuk hanya sekedar melihat acara tersebut. Ribuan warga Surabaya tumpah ruah turun ke jalan untuk menyaksikan Parade Bunga dan Pawai Budaya. Jalan Darmo di tutup satu arah untuk kendaraan bermotor dan karena banyaknya pengalihan jalan menyebabkan kemacetan di beberapa lokasi. Akhirnya saya mendapatkan tempat di ujung jauh dari garis akhir. Sedikit tidak nyaman karena di titik ini peserta pawai sudah banyak yang berkemas. Cukup beralasan sebenarnya. Mungkin para rombongan pawai tersebut sudah capek setelah berjalan 5 kilometer lebih.

Saya kemudian mendapatkan celah untuk sedikit demi sedikit berjalan ke arah pusat keramaian di depan Taman Bungkul. Di pusat keramaian tersebut terdapat sebuah tenda yang dipenuhi dengan tamu VVIP. Salah satunya adalah walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini. Di depan tenda tersebut, peserta pawai yang berjumlah 75 rombongan menampilkan sedikit pertunjukan untuk dipamerkan dihadapan walikota Surabaya.

Peserta pawai  berasal dari dinas pemerintahan yang ada di kota Surabaya, BUMN, BUMD, lembaga, sekolah, universitas, negara sahabat, kota sahabat, hingga berbagai komunitas yang ada di Kota Surabaya. Kebanyakan dari peserta pawai mewakili rombongannya dengan menggunakan mobil atau truk yang dihias dengan berbagai ornamen dari bunga. Mobil atau tersebut dihias dengan cantik dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Selain itu ada juga penampilan dari grup drumband dan grup parade budaya. Masing-masing dari mereka unjuk kebolehan di depan para tamu VVIP dan para penonton parade.

Yang menarik dari semua rombongan tersebut membagikan bunga-bunga berbagai jenis kepada para penonton. Bahkan hiasan bunga yang ada di mobil-mobil hias diambil, bisa dibilang secara paksa dan nekat, oleh penonton Parade Bunga dan Pawai Budaya. Cukup berbahaya sebenarnya mengambil bunga dari mobil yang melaju. Meskipun mobil hias dikendarai sangat pelan dan hati-hati, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadinya kecelakaan. Seperti yang terjadi di depan saya waktu itu. Seorang anak kecil yang dengan semangatnya mengambil bunga mawar yang diletakan di depan mobil hias, terjatuh dan hampir saja kakinya terlindas mobil hias. Untung saja sopir sigap dan mengerem di saat yang tepat. Petugas keamanan yang sebagian besar dari Satpol PP kota Surabaya sampai kewalahan mengatur kerumunan penonton yang berburu bunga dari mobil hias.

Di garis akhir mobil-mobil hias tersebut bisa di bilang sudah berkurang kecantikannya. Hal ini dikarenakan banyaknya penonton yang ingin berebut bunga. Tapi saya pikir mungkin memang itulah esensi dari acara ini. Penonton, yang kebanyakan adalah ibu-ibu, masing-masing membawa bunga hasil buruan dari mobil hias tadi. Bunga-bunga yang dikumpulkan bahkan bisa menjadi boquet. Cukup seru sebenarnya saya melihat bagaimana perjuangan mereka mengambil bunga. Dan ketika mereka berhasil mendapatkan bunga, rasa puas tersirat di wajah mereka yang kepanasan di teriknya matahari siang kota Surabaya.

Acara Parade Bunga dan Pawai Budaya ini berhenti pas pukul 13.00. Rombongan terkahir bukanlah rombongan nomor urut 75. Rombongan terakhir yang datang merupakan pasukan kebersihan kota Surabaya. Sampah-sampah yang berserakan di jalan hasil dari acara tersebut langsung saat itu juga dibersihkan. Agar jalan yang digunakan saat pawai, yang merupakan salah satu jalan utama Kota Surabaya, dapat langsung digunakan oleh kendaraan bermotor. Hal tersebut, menurut saya, menunjukkan kesigapan panitia dalam menyelanggarakan acara ini. Sehingga aktivitas warga Surabaya di hari Minggu tersebut dapat dilanjutkan kembali dengan bersih dan rapi.

Perhatian saya kemudian beralih ke barisan Satpol PP. Saya kira awalnya ada keramain entah apa itu. Ternyata di tengah-tengah Satpol PP ada Bu Risma yang mengucapkan terima kasih kepada pihak keamanan parade. Tak lupa Bu Risma juga menyempatkan diri untuk sekedar menyapa dan memberi salam kepada warga Surabaya juga. Hanya saja keamanan sedikit menghalangi kerumunan warga yang ingin menyalami Bu Risma. Cukup masuk akal, memang kerjaan mereka untuk melindungi pemimpin kota. Ini merupakan pertama kali saya melihat Bu Risma secara dekat. Segera saja saya memotret Bu Risma untuk sekedar kenang-kenangan.

Bu Risma sudah pulang, jalanan mulai diramaikan oleh kendaraan bermotor, dan tidak tahan dengan baju basah saya memutuskan untuk pulang. Di perjalanan menuju ke tempat parkir motor, saya melihat banyak orang yang membawa bunga. Bahkan tak sedikit juga yang membawa ornamen hiasan dari mobil hias. Sedikit menyesal saya tidak membawa bahkan setangkai bunga saja. Mungkin karena keasyikan memotret. Lain kali kalau ada kesempatan lagi datang ke Parade Bunga dan Pawai Budaya, mungkin saya akan ikut-ikut untuk berebut bunga di mobil-mobil hias untuk sekedar merasakan bagaimana keseruannya.

Tinggalkan Balasan