Pantai Balekambang Malang Selatan, 11 Mei 2017

Liburan kali ini sebenarnya tidak terlalu terencana. Awalnya saya ikut menghadiri acara kasih surprise ke seorang teman yang sedang berulang tahun. Dari situ entah siapa yang mengawali muncul wacana untuk liburan pergi ke pantai. Apalagi saat itu sedang berdekatan dengan hari libur untuk merayakan Waisak. Teman-teman yang sudah bekerja dan yang masih kuliah katanya ingin liburan untuk melepas penat. Dan terjadilah, tanggal 11 Mei kemarin saya beserta beberapa teman memutuskan untuk pergi ke Pantai Balekambang di Malang Selatan.

Berangkat dari Surabaya pukul 01.30 dini hari dengan mobil sewaan, tujuannya awalnya untuk mengejar sunrise. Meskipun tergolong hari libur, jalanan menuju Malang Selatan tergolong lengang. Baru ketika sudah dekat dengan bagian Malang Selatan terlihat beberapa iring-iringan motor yang sedang touring. Saya rasa tujuannya mereka juga sama dengan kami, yaitu ke pantai. Karena memang di bagian Malang Selatan ini terdapat banyak pantai yang bisa dikunjungi. Bahkan beberapa dari pantai-pantai tersebut masih ada yang alami.

Kami baru tiba di Pantai Balekambang kurang lebih pukul 06.00. Matahari sudah muncul tapi tidak begitu tinggi. Sehingga suasana subuh masih sedikit terasa. Sedikit meleset dari jadwal awal karena kami melalui rute yang sedikit memutar. Setelah membayar di gerbang selamat datang, sebesar Rp. 10.000,00/orang, kami langsung tancap gas menuju pantai. Meskipun kedatangan kami termasuk sangat pagi, tetapi di Pantai Balekambang bisa terbilang sudah ramai dengan pengunjung. Warung-warung makan dan toko souvenir juga sudah banyak yang buka. Bahkan di beberapa titik beberapa pengunjung mendirikan tenda di pesisir pantai.

Parkir mobil sudah, ganti baju buat basah-basahan sudah, kamera sudah siap dengan tripod, saatnya untuk explore. Pantai Balekambang sendiri merupakan salah satu primadona bagi wisatawan ketika berkunjung ke Malang Selatan. Alasannya tidak lain adalah karena Pantai Balekambang menawarkan pemandangan alam Samudera Hindia dan gulungan ombak pantai selatan yang terkenal ganas. Selain itu Pantai Balekambang memiliki akses jalan yang mudah dan fasilitas yang terbilang lengkap bagi wisatawan. Tidak seperti beberapa pantai lain di Malang Selatan, yang untuk bisa sampai ke sana, harus melewati beberapa perjuangan dulu.

Daya tarik lainnya adalah adanya Pura Amarta Jati yang dibangun di Pulau Ismoyo yang dihubungkan dengan jembatan. Kehadiran pura ini menyebabkan Pantai Balekambang juga di sebut sebagai ‘Tanah Lot’nya Malang Selatan. Karena memakai baju yang bisa di bilang tidak sopan untuk masuk ke tempat ibadah, saya memutuskan untuk mengambil foto di jembatan saja. Setelah puas mengambil foto saya meneruskan jalan ke arah barat pantai. Kata seorang teman lebih baik jika ingin main air ke pantai yang bagian barat Pulau Ismoyo saja karena lebih sepi dari pengunjung. Alasan lebih sepi katanya karena untuk memasuki pantai sebelah barat harus membayar lagi sebesar Rp. 5000,00. Tapi entah mungkin karena kami masih tergolong pagi dan tidak ada penjagaan, kami masuk saja tanpa membayar.

Memang benar di pantai yang disebelah barat Pulau Ismoyo tergolong lebih sepi dari yang sebelah timur. Teman-teman yang lain langsung saja menuju ombak dan bermain air di sana. Saya yang masih ingin memotret memutuskan untuk berjalan lebih ke barat lagi. Selain Pulau Ismoyo terdapat dua pulau lagi yang terkenal di Pantai Balekambang, yaitu Pulau Hanoman dan Pulau Wisanggeni. Sama seperti Pulau Ismoyo, Pulau Hanoman juga di hubungkan dengan jembatan. Karena penasaran saya dengan dua orang teman memutuskan untuk ke sana dulu sebelum basah-basahan.

Di Pulau Hanoman sendiri tidak banyak yang bisa di lihat. Pulau Hanoman merupakan pulau kecil yang ditumbuhi rimbunnya pepohonan. Pulau ini juga mungkin menjadi habitat bagi burung pantai. Di ujung selatan pulau kita dapat melihat di kejauhan Pulau Wisanggeni yang lebih menjorok ke lautan. Pulau Wisanggeni sendiri terlihat seperti karang, atau memang karang saya tidak tahu persisnya, dan tergolong pendek. Sudah tentu tidak untuk dikunjungi karena ombak laut selatan yang ganas selalu menerpa Pulau Wisanggeni. Puas berkeliling dan melihat-melihat kami memutuskan kembali ke Pulau Jawa untuk menuju ke rombongan yang sedang bermain air.

Sedikit insiden sebenarnya terjadi di sini. Sebelum kembali ke rombongan kami bertiga berjalan lagi ke arah barat Pulau Hanoman. Saya memisahkan diri untuk mengambil foto. Kedua teman saya menunggu di jembatan karena katanya ingin foto-foto di jembatan dulu. Puas memotret alam saya tertarik untuk mengambil beberapa selfie. Kamera saya taruh di pasir dan set timer 10 detik kemudian saya mengambil lokasi sekitar 5 meter dari kamera. Entah ada angin apa, tiba-tiba ombak yang datang terbilang besar dari sebelumnya. Ombak tersebut menyapu tripod saya dan sialnya kepala, yang artinya kamera, jatuh duluan ke pasir. Sialnya lagi pasirnya masih terdapat sedikit air dan jadilah basah kamera saya. Daripada kenapa-kenapa akhirnya saya matikan dan tidak memotret lagi menggunakan kamera.

Untungnya baterai hape masih banyak. Jadilah saya memotret sedikit menggunakan hape. Puas memotret saya kembali lagi ke rombongan yang sedang bermain air. Kamera saya taruh di daerah yang terkena sinar matahari. Niatnya untuk mengeringkan beberapa bagian yang basah menggunakan sinar matahari. Entah cara ini benar atau salah, yang tetapi setelah dijemur kamera bisa berjalan normal seperti biasanya.

Sisanya ya seperti yang bisa ditebak. Namanya juga pantai, saatnya untuk basah-basahan. Kami semua bermain air seperti ingin menantang ombak laut selatan yang ganas. Memang menjadi kesenangan sendiri ketika tersapu ombak dan tubuh terasa ditarik ke lautan ketika ombak kembali surut. Beruntungnya main di pantai saat pagi hari adalah sinar matahari tidak terlalu terik dan hawa tidak terlalu panas. Kami baru berhenti ketika badan sudah terlampau capek dan rasa haus datang. Setelah itu kami mandi di toilet umum dan kemudian menuju Kota Malang untuk makan siang. Liburan pendek yang cukup berkesan. Setidaknya mengobati kerinduan saya terhadap pantai.

Tinggalkan Balasan