Mengenal Adat Leluhur Manggarai Flores: Upacara Beri Makan Leluhur (Bagian 3)

Acara adat dilanjutkan pada sore harinya, Rabu (23/8). Upacara kali ini disebut dengan upacara beri makan leluhur yang dibagi menjadi 2 bagian. Yang pertama adalah ziarah dan berdoa di makam leluhur yang dilakukan pada sore hari. Sedangkan yang kedua adalah upacara memberikan persembahan kepada leluhur yang dilakukan pada malam harinya.

Seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Ketika pulang ke kampung halaman atau ketika sedang melakukan sebuah acara yang penting, ada yang melakukan ziarah ke makam leluhur untuk meminta restu atau mengirimkan doa. Begitu juga dengan acara pesta imamat ke-25 dari Romo Stef ini. Pada acara ini kami keluarga besar berziarah ke makam orang tua dan saudara-saudara dari Romo Stef. Berarti bagi saya mereka adalah kakek dan nenek serta paman-paman yang sudah meninggal terlebih dahulu.

Ini adalah kali kedua saya berziarah ke makam kakek Eligius Egong dan nenek Dorotea Paul . Serta berziarah ke makam paman Stanis yang baru meninggal pada bulan Juni 2017 lalu. Upacara ini diawali dengan pemberkatan lilin dengan air suci yang dilakukan di rumah di desa Lasang. Kemudian kami beramai-ramai jalan kaki ke lokasi perkuburan yang jaraknya kurang lebih 1 km. Lokasi perkuburannya sendiri terletak di sebuah bukit dengan pemandangan alam sekitar yang sangat indah.

Setibanya di lokasi perkuburan, kami sekeluarga langsung mengambil posisi mengelilingi makam dari kakek Eligius Egong dan nenek Dorotea Paul. Lilin-lilin taruh di sekeliling makan dan kemudian dinyalakan. Upacara ini dipimpin oleh kakek Thomas Haju yang merupakan adik dari kakek Eligius Egong. Kakek Thomas Haju memulai dengan menepuk makam dari kakek Eligius Egong. Tepukan tersebut seakan seperti membangunkan kakek Eligius Egong dari tidur dan kemudian di ajak ngobrol.

Dengan menggunakan bahasa Manggarai kakek Thomas Haju berbicara dengan kakek Eligius Egong dan nenek Dorotea Paul . Cara bicara kakek Thomas Haju seakan-akan menunjukkan bahwa mereka berdua ada di sana dan sedang mendengarkan. Ini merupakan budaya dari daerah Manggarai saat berziarah ke makam leluhur. Mereka tidak hanya berdoa kepada Tuhan. Tetapi mereka juga mengajak ngobrol layaknya orang tersebut masih hidup.

Yang saya tangkap kakek Thomas Haju menuturkan bahwa keluarga sedang berkumpul di desa untuk melaksanakan pesta imamat ke-25 dari Romo Stef. Beliau juga mohon doa dan restu agar acara tersebut dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Usai kakek Thomas Haju melakukan ritual tersebut, upacara dilanjutkan dengan mengirimkan doa secara Katolik.

Upacara kirim doa ini dipimpin sendiri oleh Romo Stef selaku imam Tuhan. Usai doa-doa selesai dipanjatkan Romo Stef memberkati makam kakek Eligius Egong dan nenek Dorotea Paul dengan percikan air suci. Tak hanya kedua makan tersebut, tetapi seluruh makan di lokasi perkuburan ini juga diperciki dengan air suci. Kemudian kami sekeluarga berpindah ke makam dari paman Stanis. Upacara yang dilakukan sama seperti yang dilakukan sebelumnya.

Dalam adat Manggarai, upacara ziarah ini dilakukan untuk mengundang keluarga yang sudah meninggal ke dalam rumah. Rumah yang dimaksudkan adalah rumah tempat tinggal keluarga besar Romo Stef yang digunakan untuk upacara beri makan leluhur. Ketika upacara beri makan leluhur mereka percaya bahwa keluarga yang sudah meninggal hadir juga di sana untuk sama-sama merayakan pesta imamat ke-25 dari Romo Stef.

Upacara beri makan leluhur dilaksanakan pada malam harinya. Dalam upacara tersebut semua keluarga besar beserta para tamu udangan berkumpul dalam satu rumah. Suasana yang tercipta saat upacara ini terkesan lebih sakral dibandingkan upacara-upacara yang dilakukan sebelumnya. Dalam upacara ini, Bapa Jon serta kakek Thomas Haju ditunjuk sebagai pemimpin acara.

Upacara ini dimulai dengan memberikan tuak secara simbolis kepada tamu-tamu yang hadir di sana. Tamu-tamu tersebut merupakan kerabat dan keluarga jauh dari keluarga besar Romo Stef. Tuak tersebut diberikan secara keliling sebagai tanda penghormatan kepada para tamu. Selain itu dengan tuak tersebut tersirat makna bahwa kehadiran mereka diterima dengan hati yang ikhlas dalam rumah tersebut.

Setelah tuak dikelilingkan secara simbolis maka para tamu-tamu dan keluarga memberikan sumbangan kepada keluarga Romo Stef. Dalam acara ini sumbangan yang diberikan dengan bentuk uang. Uang yang berbagai macam jumlahnya tersebut ditaruh dalam sebuah piring yang dikelilingkan ke para tamu-tamu dan keluarga. Sumbangan tersebut diharapkan dapat meringankan beban atas terselenggaranya pesta imamat ke-25 dari Romo Stef.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemberian kain songke oleh anak rona. Anak rona di sini maksudnya adalah keluarga dari keluarga perempuan, dari nenek Dorotea Paul. Bahasa gampangnya adalah keluarga dari menantu perempuan. Anak rona di sini berkewajiban untuk memberikan kain songke kepada Romo Stef. Pemberian kain tersebut tersirat makna sebagai doa bagi Romo Stef. Dengan kain tersebut diharapkan agar panggilan imam dari Romo Stef menjadi semakin diteguhkan dan diperkuat lagi.

Pemberian kain tersebut merupakan doa dari keluarga nenek Dorotea Paul. Kain tersebut kemudian menjadi milik dari Romo Stef. Berdasarkan adat, keluarga dari Romo Stef mengganti biaya dari kain songke pemberian dari anak rona. Hal tersebut dilakukan agar dapat saling tertutupi kebutuhan dari kedua belah pihak keluarga.

Selanjutnya upacara dilanjutkan dengan pemotongan ayam putih. Sebelum ayam dipotong, Bapa Jon berbicara lagi menggunakan bahasa Manggarai. Yang saya tangkap Bapa Jon seperti berbicara kepada tamu yang tidak kelihatan, leluhur yang ikut diundang ke dalam acara. Bapa Jon seperti menyampaikan bahwa ayam putih tersebut merupakan sebuah persembahan yang diberikan oleh keluarga. Usai Bapa Jon berbicara barulah kemudian ayam tersebut dipotong.

Setelah ayam dipotong makan piring yang berisi nasi serta gelas berisi air dihidangkan di tengah-tengah para hadirin. Sekali lagi Bapa Job berbicara, lagi-lagi seperti berbicara kepada tamu yang tidak kelihatan. Setelah Bapa Jon selesai berbicara piring beserta gelas tersebut diangkat dan digantikan oleh makanan dan minuman yang dihidangkan untuk para tamu. Dengan dihidangkannya makanan dan minuman tersebut maka menandakan bahwa acara beri makan leluhur sudah selesai. Para hadirin yang ikut serta dalam acara dipersilahkan makan bersama-sama dengan keluarga.

Pemotongan ayam putih tersebut dilakukan sebagai korban dan simbol dalam pemberian makan untuk leluhur. Adanya nasi dan air diberikan juga sebagai pelengkap dalam upacara beri makan leluhur ini. Seperti halnya manusia yang hidup di dunia, pemberian makan leluhur ini lengkap dari nasi, lauk, hingga air minum.

Dalam adat pemberian makan leluhur ini wajib dilakukan sebagaimana pada saat mereka masih hidup. Walaupun mereka tidak secara langsung makan, tetapi makanan tersebut diberikan dari hasil karya keluarga yang masih hidup. Semua itu berasal dari para leluhur. Tanah, pendidikan, dan rejeki diberikan oleh Tuhan melalui para leluhur tersebut. Walaupun mereka sudah meninggal, keluarga di dunia tetap menghormati dan mendoakan mereka. Dan itu semua dilakukan secara adat dalam upacara ini.

Dengan selesainya upacara beri makan leluhur, maka upacara adat dalam pesta imamat ke-25 dari Romo Stef juga sudah selesai. Acara dilanjutkan esok harinya, Kamis (24/8), dengan melakukan misa syukur secara Katolik. Misa syukur tersebut dipimpin sendiri oleh Romo Stef. Untuk misa syukur tersebut saya tidak akan menuliskannya karena acara berjalan seperti misa syukur pada umumnya.

Semoga saja tiga artikel yang saya tuliskan mengenai adat Manggarai ini dapat diterima. Lebih dan kurangnya dari penjelasan mengenai acara adat ini saya mohon maaf. Jika mungkin saya juga mohon koreksi jika ada bagian-bagian yang salah. Semoga dapat berkenan bagi para pembaca.

Tinggalkan Balasan