Mengenal Adat Leluhur Manggarai Flores: Manuk Kapu, Caca Selek, dan Toi Loce (Bagian 2)

Usai acara Keris Adat selesai, Romo Stef dan Romo Sutadi di arak masuk ke dalam desa Lasang. Tabuhan suara gendang dengan gamelan mengiringi paduan suara yang dengan merdunya menyanyikan lagu khas Manggarai. Tak lupa, anak-anak kecil di barisan paling depan turut mengawal rombongan arak-arakan dengan menari tarian adat khas Manggarai yang bernama Ndudu Ndake.

Rombongan arak-arakan sebenarnya akan di arahkan ke rumah adat sesuai dengan tradisi. Namun dikarenakan rumah adat sedang dalam proses renovasi makan rombongan tersebut di arahkan ke panggung berada di tengah desa. Panggung tersebut memang di sediakan khusus untuk acara ini sebagai pengganti rumah adat.

Romo Stef dan Romo Sutadi kemudian dipersilahkan untuk naik ke atas panggung ditemani dengan tetua adat dan perwakilan dari keluarga besar. Acara adat kemudian dilanjutkan dengan acara yang bernama Manuk Kapu. Dalam bahasa Manggarai, Manuk berarti ayam dan Kapu berarti menggendong atau memapah. Ayam yang digunakan memiliki kriteria khusus. Ayam tersebut haruslah ayam jago dan memiliki bulu yang berwarna putih.

Dalam menyambut tamu, baik itu juga termasuk tamu agung atau tamu kehormatan, dilakukan dengan cara memberikan ayam jago putih tersebut kepada tamu yang datang. Karena banyaknya tamu yang datang maka yang memapah ayam tersebut diwakilkan oleh Romo Stef. Sama seperti warna putih pada tuak. Warna putih pada ayam jago tersebut melambangkan ketulusan dan kebersihan hati. Melalui acara Manuk Kapu tersebut masyarakat desa Lasang menerima Romo Stef dan Romo Sutadi beserta rombongan dengan hati yang bersih, tulus, dan ikhlas.

Acara dilanjutkan dengan upacara Caca Selek. Caca Selek sendiri memiliki artian untuk menanggalkan semua pakaian yang sifatnya formal dan menggantinya dengan pakaian yang santai. Pakaian-pakaian yang melekat di badan Romo Stef dan Romo Sutadi, mulai dari penutup kepala, kain songke, dan selendang, seharusnya dilepas agar tidak terikat dengan pakaian tersebut. Hanya saja dalam acara kali ini pelepasan pakaian tersebut hanya dilakukan dengan simbolis.

Caca Selek ini juga dilengkapi dengan simbol-simbol lainnya. Yaitu dengan hadirnya ayam jantan berwarna merah dan tuak. Ayam merah tersebut melambangkan suatu semangat yang bernyala-nyala. Tuak sendiri merupakan minuman khas Manggarai yang harus selalu ada dalam setiap acara adat.

Setelah upacara Caca Selek selesai, maka acara dilanjutkan dengan upacara Toi Loce. Upacara Toi Loce dilakukan untuk menunjukkan tempat menginap yang akan digunakan oleh Romo Stef dan Romo Sutadi. Dalam upacara ini tempat tersebut disimbolkan dengan adanya tikar dan bantal yang berada di panggung. Meskipun hanya untuk menunjukkan tempat untuk bermalam, dalam acara ini juga harus ditandai dengan sebuah acara adat.

Dengan berakhirnya upacara Toi Loce, maka rangkaian acara yang pertama sudah selesai. Rombongan Romo Stef beserta para hadirin dipersilahkan untuk menyantap makan siang yang sudah diselenggarakan oleh panitia. Usai makan rombongan dipersilahkan untuk istirahat untuk mengembalikan tenaga. Karena pada sore hari hingga malamnya, upacara adat masih tetap dilakukan.

Tinggalkan Balasan