Mengenal Adat Leluhur Manggarai Flores: Kepok dan Keris Adat (Bagian 1)

Dalam liburan saya di Flores kali ini, saya berkesempatan untuk mengenal dan terlibat secara langsung dengan adat dari daerah Manggarai. Seperti yang saya jelaskan pada postingan sebelumnya. Kepergian keluarga saya ke Manggarau Flores secara khusus adalah untuk merayakan pesta Imamat ke-25 tahun dari Romo Stefanus Magut yang merupakan kakak dari Papa saya.

Pesta tersebut diselenggarakan dengan cara adat desa Lasang. Mulai dari acara penjemputan yang bernama Kepok Adat hingga acara Misa syukur yang total diselenggarakan selama dua hari. Hanya saja untuk acara adat hanya diselenggarakan pada hari pertama, yaitu hari Rabu (23/8). Dalam tulisan ini saya akan menceritakan acara Kepok Adat hingga acara Toi Loce.

Romo Stef (sebelah kiri mengenakan kacamata) dan Romo Sutadi (sebalah kanan)

Acara adat dimulai dengan penjemputan Romo Stef dari batas desa Lasang dengan desa Ranggu. Saat diperbatasan desa tersebut Romo Stef, beserta seorang temannya Romo Sutadi, disambut oleh tetua-tetua adat yang sudah mengenakan pakaian adat Manggarai. Datang jauh-jauh dari Labuan Bajo, Romo Stef dan Romo Sutadi hanya mengenakan pakaian formal biasa. Di sinilah Romo Stef dan Romo Sutadi diberikan pakaian adat untuk kemudian dipasangkan oleh tetua-tetua adat tersebut. Pakaian-pakaian adat tersebut terdiri dari Sapu (topi di kepal) dan kain songke yang dililitkan di badan.

Acara mengenakan pakaian tersebut memiliki makna bahwa keluarga besar desa Lasang menerima kembali Romo Stef yang kembali lagi setelah 25 tahun menjadi imam Tuhan. Dengan mengenakan tutup kepala dan kain songke diharapkan dapat memberikan kehangatan kepada Romo Stef saat berada di desa Lasang. Selain itu mengenakan pakaian adat tersebut juga menandakan bahwa Romo Stef merupakan anak dari desa Lasang dan masyarakat desa Lasang menerimanya dengan penuh rasa syukur.

Setelah mengenakan pakaian adat Romo Stef dan Romo Sutadi dijamu dengan tuak putih yang diletakkan di dalam batang bambu. Tuak tersebut kemudian dibagikan dan diminum oleh Romo Stef dan Romo Sutadi. Tuak dalam adat Manggarai merupakan minumal tradisional yang menjadi lambang persatuan, persaudaraan, dan kekeluargaan. Warna putih pada tuak tersebut melambangkan hati yang putih juga tulus dan ikhlas.

Usai prosesi penjemputan di batas desa, Romo Stef dan Romo Sutadi kemudian diarak beramai-ramai menuju ke gerbang desa Lasang. Prosesi arak-arakan kali ini menggunakan sepeda motor dan mobil karena batas desa dengan gerbang desa Lasang cukup jauh jaraknya. Jalan yang kecil dengan medan jalan yang naik turun seakan dikhususkan hanya untuk dilewati oleh rombongan. Kendaraan bermotor dari arah berlawanan diharuskan mengalah dan minggir ke tepi jalan untuk mempersilahkan rombongan lewat terlebih dahulu. Meskipun begitu, mereka yang mengalah tetap memberi senyum dan salam kepada kami para rombongan.

Sesampainya di gerbang desa Lasang, proses penyambutan dilakukan sekali lagi. Hanya saja yang menyambut kali tetua-tetua adat yang berbeda dari yang sebelumnya. Prosesi di desa dipimpin oleh Bapa Jon sebagai salah satu tetua di desa Lasang. Begitu datang di gerbang desa, Romo Stef dan Romo Sutadi dikalungkan sebuah selendang oleh dua orang wanita yang juga mengenakan pakaian adat. Selendang tersebut sama maknanya seperti Sapu dan kain songke yang melekat di badan.

Bapa Jon kemudian memimpin upacara dengan menggunakan bahasa Manggarai. Prosesi sebelumnya juga sama-sama menggunakan bahasa Manggarai. Seluruh upacara ada ini dari awal hingga akhir disampaikan dengan menggunakan bahasa Manggarai. Untuk apa yang diomongkan oleh Bapa Jon tersebut saya tidak tau apa artinya. Untung saja ada Bapa Laos yang bertugas sebagai pemandu acara yang menjelaskan menggunakan bahasa Indonesia.

Bapa Jon (memegang keris) bertugas dalam memimpin upacara ada ini

Sama seperti di batas desa, di gerbang desa ini juga Romo Stef dan Romo Sutadi dijamu dengan tuak putih. Hanya saja untuk yang di gerbang desa tuak tersebut tidak diminum. Hanya diberikan sebagai simbolis acara adat tersebut. Usai memberikan tuak acara kemudian dilanjutkan dengan acara Keris Adat.

Dalam acara Keris Adat ini, Bapa Jon berdiri di hadapan Romo Stef dan Romo Sutadi sambil membawa sebuah keris. Pada awalnya keris tersebut diangkat tinggi-tinggi oleh Bapa Jon. Kemudian keris tersebut diarahkan ke kiri dan ke kanan dari Romo Stef dan Romo Sutadi. Sambil tetap mengucapkan kalimat dalam bahasa Manggarai Bapa Jon mengarahkan keris tersebut ke bawah. Kemudian diulangi lagi mengangkat ke atas, ke kiri, ke kanan, dan ke bawah berulang kali. Saya sendiri lupa untuk menghitung berapa kali keris tersebut diarahkan.

Keris tersebut merupakan simbol sebagai barang pusaka. Dengan keris yang digunakan Bapa Jon tersebut, dipercaya dapat mengusir setan dan pengaruh-pengaruh roh jahat yang berada di desa Lasang maupun yang datang bersama dengan rombongan dari Romo Stef. Sehingga diharapkan Romo Stef beserta tamu-tamu yang datang selalu dalam kondisi sehat walafiat selama berada di desa Lasang. Pengusiran setan dan roh jahat tersebut ditandai dengan diarahkannya keris adat tersebut ke samping kiri dan kanan dari Romo Stef dan Romo Sutadi.

Acara Keris Adat tersebut juga dilakukan sebagai sarana dalam memanjatkan doa dan harapan. Saat diarahkan ke bawah ke arah tanah terkandung doa agar iman dari Romo Stef dan Romo Sutadi dalam hidup membiara sebagai imam Tuhan harus mengakar ke dalam diri. Kemudian ketika keris diarahkan ke atas maka diharapkan agar apa yang diamalkan dan dilakukan oleh Romo Stef dan Romo Sutadi dapat tumbuh tinggi menjulang hingga ke langit.

Tinggalkan Balasan