Malioboro Yogyakarta, 22 April 2017

Hiruk pikuk ribuan manusia memenuhi jalanan. Berlalu lalang mengunjungi kios yang satu ke kios yang lain. Ada yang beramai-ramai, ada juga yang hanya sendirian. Seperti halnya saya, sendirian terpisah dari rombongan di tengah ramainya Jalan Malioboro Yogyakarta. Malam itu kota Yogyakarta memang menjadi salah satu tujuan wisata bagi banyak orang karena bertepatan dengan libur panjang Hari Raya Umat Muslim, Isra’ Mi’Raj 2017.

Terpisah dari rombongan setidaknya menjadi keuntungan bagi saya. Saya tidak perlu mengikuti rombongan yang bertujuan berburu barang-barang yang memang terkenal murah di sini. Karena malam itu merupakan malam pertama di Yogyakarta, saya memutuskan untuk tidak belanja terlebih dahulu. Hitung-hitung hemat pengeluaran. Akhirnya saya hanya berjalan saja seorang diri menikmati keramaian malam di Jalan Malioboro.

Perhatian saya kemudian teralih kepada gerobak kopi yang memiliki nama Koling. Koling sendiri merupakan singkatan dari Kopi Keliling. Yang membuat saya mampir sebenarnya karena saya melihat adanya alat manual brewing. Di gerobak yang ukurannya tidak seberapa besar tersebut, barista meracik kopi dengan menggunakan alat-alat manual brewing tersebut. Cukup repot sebenarnya saya lihat, apalagi banyaknya antrian yang juga ingin mencicipi kopi seduhan dari Koling. Setelah kopi saya dapatkan, saya memutuskan untuk duduk di samping gerobak Koling, beralaskan sandal sambil melihat lalu lalang pengunjung jalan malioboro ditemani secangkir kopi sunda hejo racikan dari Koling.

Selang 15 menit kopi habis tetapi rombongan belum juga selesai mencari-cari barang. Saya melanjutkan jalan santai ke arah utara hingga mencapai tiang papan nama Jalan Malioboro. Seperti yang sudah saya duga, tiang papa nama tersebut di kerubungi oleh banyak orang yang ingin foto di bawahnya. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda, tetapi tak sedikit juga orang-orang tua yang juga ikut-ikutan foto. Mereka pun bergantian berpose berbagai gaya sambil ditemani oleh jepretan flash kamera. Tidak menemukan sesuatu yang menarik, saya melanjutkan jalan santai kembali ke arah selatan Jalan Malioboro.

Berjalan dari ujung awal Jalan Malioboro membuat saya baru sadar bahwa Malioboro menjadi lebih rapi dibandingkan kedatangan saya terakhir di bulan Oktober 2015. Di sisi sebelah timur Jalan Malioboro sudah tidak ada lagi parkir motor di trotoar. Trotoar dipercantik dengan ditambahkan pot-pot bunga dan bangku-bangku tempat di mana pengunjung bisa istirahat. Pedagang makanan pun hanya ada di sebelah timur, berderat rapi dari ujung awal hingga ujung akhir Jalan Malioboro. Untuk pedagang-pedagang souvenir memang dari dulu sudah berada di sebelah barat Jalan Malioboro. Delman dan becak montor disediakan jalur sendiri untuk parkir maupun jalan sehingga tidak mengganggu jalur kendaraan bermotor.

Yang menjadi andalan utama dari Jalan Malioboro ini sendiri adalah produk-produk souvenir yang khas dari daerah Yogyakarta. Produk-produk tersebut dapat berupa kaos, sandal, gantungan kunci, batik, hiasan rumah, dsb yang semuanya memiliki sifat Yogyakarta di dalamnya. Entah itu produk dari pedagang kios kaki lima atau bahkan hingga ke toko yang menjual produknya hingga harga jutaan. Produk-produk tersebut menjadi incaran bagi para wisatawan atau pengunjung untuk dijadikan oleh-oleh bagi kerabatnya. Dan yang saya lihat di sini, kebanyakan dari pengunjung tidak membeli berdasarkan brand dari suatu produk. Padahal produk-produk yang di jual di Jalan Malioboro ini sebenarnya memiliki brandnya masing-masing. Jika produk tersebut sudah dirasa memiliki ciri khas Yogyakarta di dalamnya, pasti ada saja yang akan membelinya.

Hal inilah yang menarik bagi saya. Para pedagang di Malioboro, mau itu dari pedagang kios hingga toko, pasti memiliki pembelinya sendiri. Dari produk harga yang paling murah hingga paling mahal sekalipun tetap laku dijajakan di Jalan Malioboro. Mereka bersaing secara sehat dengan menjual produk-produk yang bertemakan atau memiliki ciri khas Yogyakarta. Produk dagangan mereka kemudian di bawa hampir ke seluruh Indonesia bahkan sampai ke mancanegara. Dan dari sanalah orang-orang bisa tau atau menjadi tau tentang kota Yogyakarta melalui produk-produk yang di jual di Jalan Malioboro tersebut.

Saya berandai bagaimana jika jalan seperti Malioboro ini ada di setiap kota di Indonesia. Jalan di mana terdapat pedagang-pedagang yang menjajakan produk yang memiliki ciri khas tentang kotanya masing-masing. Sehingga menjadi destinasi bagi para wisatawan untuk berbelanja buah mata dari kota tersebut untuk di bawa pulang ke tempat asalnya. Mungkin beberapa sudah ada, tetapi beberapa mungkin juga belum. Saya tidak tau, masih sedikit kota-kota di Indonesia yang saya datangi.

Dan akhirnya jalan santai diakhiri dengan pesan masuk dari hape saya. Rombongan ternyata sudah puas berbelanja dan menunggu di mobil. Langsung saja saya bergegas agar bisa cepat-cepat merebahkan badan. Karena perjalanan saya di Yogyakarta tidak hanya di sini saja.

Tinggalkan Balasan