Liburan Keluarga Bersama Komodo di Pulau Rinca

Ketika masih berada di desa Lasang, paman saya Bapa Urbanus namanya, menawari saya untuk ikut trip ke Pulau Rinca. Trip kali ini sebenarnya untuk menjamu atau bisa jadi menghadiahi Romo Stef dan Romo Sutadi untuk melihat komodo secara langsung. Karena terhitung sedikit maka kami sekeluarga juga di ajak pergi.

Bapa Urbanus sendiri merupakan ranger (pawang) senior di Taman Nasional Komodo. Beliau sudah puluhan tahun menjalani pekerjaan ini sehingga sudah paham betul seluk beluk dari Taman Nasional Komodo dan perilaku dari komodo itu sendiri. Karena masalah waktu maka pulau yang dikunjungi adalah Pulau Rinca yang untuk melihat komodo merupakan yang terdekat dari Labuan Bajo.

Bapa Urbanus, sebelah kanan menggunakan topi

Sesuai janji kami berkumpul di Pelabuhan Labuan Bajo pada jam 8 pagi, Jumat (25/8). Pesertanya adalah saya, Papa, Mama, Romo Steff, Romo Sutadi, dan Bapa Urbanus. Karena yang ikut dalam trip ini semuanya adalah keluarga maka tidak ada masalah saat keberangkatan. Kapal motor yang gunakan bernama Tiga Putri. Kapal tersebut tergolong kapal kecil yang mampu menampung hingga 10 orang termasuk dengan kapten dan awak kapal. Meskipun begitu kapal ini mampu mengarungi perairan Taman Nasional Komodo.

Pada awalnya Papa memutuskan untuk tidak ikut trip ini. Alasannya adalah karena sore harinya jam 3 Papa harus terbang ke Surabaya. Tetapi karena dipaksa dan dibujuk oleh yang lainnya akhirnya Papa ikut juga. Hanya saja menurut saya keputusan ini sangat beresiko pada akhirnya.

Perjalanan laut kami tempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam. Saat itu lautan tenang sehingga kapal melaju dengan santai ke Pulau Rinca. Arus ombak dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca sendiri tergolong tenang. Sehingga kapal tidak terlalu berayun ketika membelah ombak. Perjalanan selama dua jam tersebut sangat saya nikmati. Pemandangan gugusan pulau dan birunya laut di kawasan Taman Nasional Komodo menambah indah perjalanan tersebut.

Pulau Rinca sebenarnya sudah terlihat semenjak setengah perjalanan. Hanya saja lokasi yang dituju adalah Loh Buaya yang terletak di tengah pulau. Kata Loh memiliki arti teluk dan Buaya merupakan sebutan penduduk pulau Rinca terhadap komodo. Baik di pulau Rinca maupun pulau Komodo terdapat terdapat perkampungan penduduk yang hidup berdampingan dengan komodo. Loh Buaya ini merupakan pintu masuk dari kawasan wisata Taman National Komodo di Pulau Rinca.

Birunya laut berganti menjadi barisan hutan bakau yang seakan menyambut kedatangan kami. Turun dari kapal dan memasuki gerbang, hutan bakau perlahan-lahan berganti menjadi padang savana hingga bukit-bukit yang dipenuhi oleh rumput pendek. Dikejauhan nampak hutan yang ditumbuhin pepohonan dengan daun-daun yang jarang. Seakan tak cukup lebat untuk memberikan perlindungan terhadap panasnya terik matahari. Menurut informasi pepohonan tersebut bernama pohon lontar yang merupakan flora paling dominan di pulau ini.

Jam menunjukkan pukul 1/2 12 ketika kami tiba di Pulau Rinca. Matahari yang hampir berada tepat di atas kepala tak menyurutkan rasa penasaran kami untuk melihat komodo secara langsung. Dengan di pandu oleh Bapa Urbanus kami memasuki pos wisata. Di situ kami dikenalkan dengan seorang ranger, Kuba namanya, yang akan bertugas menjelaskan seluk beluk mengenai komodo dan menjaga kami dengan menggunakan tongkat kayu bercabang yang panjangnya sampai 2 meter. Tongkat tersebut digunakan untuk menghalau atau menjauhkan komodo yang mendekat ke arah wisatawan.

Di awal perjalanan kami sudah berjumpa dengan kawanan komodo. Kawanan komodo tersebut berjumlah 6 ekor. Mereka berkumpul di bawah rumah panggung yang merupakan dapur dari pos wisata tersebut. Bau daging mentah dan bau darah mengundang perhatian komodo untuk berkumpul di tempat tersebut. Komodo-komodo tersebut sengaja tidak diberikan makanan agar mereka tidak menjadi manja. Karena bila menunggu diberi makanan maka insting memburu dari komodo akan menjadi tumpul. Meskipun begitu, komodo-komodo tersebut tetap berkumpul di situ.

Kuba kemudian menawarkan kami untuk berfoto dengan komodo tersebut. Jelas saja saya mau karena kapan lagi berfoto dengan binatang buas seperti ini di alam liar. Syaratnya adalah Kuba yang memotret kami dan jarak kami dengan komodo maksimal 4 meter. Meskipun 4 meter, tetapi saat berpose gerakan sedikit komodo cukup membuat saya kaget. Harap-harap cemas kalau komodo menoleh ke belakang dan menerkam kami sekeluarga. Harap-harap cemas juga melihat Kuba yang memotret kami dengan jarak kurang dari 2 meter persis di depan muka komodo.

Puas berpose bersama komodo kami melanjutkan perjalanan ke dalam hutan untuk melihat sarang. Tak terlalu jauh dari pos wisata, mungkin sekitar 400 meter kami sudah menemukan sarang tersebut. Saat kami ke sana, sarang tersebut kosong karena memang belum waktunya bagi komodo untuk bertelur. Dari atas sarang tersebut berbentuk seperti lubang ke bawah. Tetapi menurut penuturan Kuba sarang tersebut berbentuk L dengan satu meter ke bawah dan satu meter mendatar. Di sarang tersebut, Kuba menjelaskan tentang komodo dan cara berkembang biaknya. Agar tidak kepanjangan postingan ini, mungkin saya akan tulis di artikel yang terpisah.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, trip kali ini dibatasi waktu karena Papa harus mengejar penerbangan jam 3. Tidak sampai satu jam kami di Pulau Rinca dan memutuskan untuk kembali lagi ke Labuan Bajo. Kurang puas sebenarnya bagi saya karena tidak bisa menjelajah lebih jauh lagi ke dalam Pulau Rinca. Tetapi mau bagaimana lagi, mungkin lain kali masih diberikan kesempatan.

Perjalanan pulang ke Labuan Bajo lebih banyak diisi dengan diam. Mungkin karena lapar dan sudah capek. Saya juga sedikit terlelap ketika di kapal. Hingga akhirnya kami tiba di Labuan Bajo jam 2 lebih 10. Begitu kapal mendarat kami langsung cepat-cepat pergi ke rumah. Dan pada akhirnya Papa berhasil memasuki pesawat dimenit-menit terakhir sebelum pesawat terbang landas menuju Surabaya.

Tinggalkan Balasan