Legenda Watu Umpu dan Gunung Poco Kuwus Manggarai, Flores

Legenda Watu Umpu dan Gunung Poco Kuwus ini saya dapat dari Papa ketika kami sudah berada di Labuan Bajo. Papa sendiri mendapatkan cerita ini dari supir travel saat perjalanan dari desa Lasang ke Labuan Bajo. Sebenarnya menurut Papa, dia sudah pernah mendengar cerita rakyat atau legenda ini ketika kecil dulu. Hanya saja mungkin karena kegiatan yang sibuk atau entah karena alasan apa, Papa menjadi lupa. Jadi beginilah ceritanya.

Dahulu kala ada satu keluarga yang terdiri dari kakak dan adik yang tinggal dalam satu rumah di sebuah desa. Sang Kakak sudah beristri dan istri tersebut juga tinggal bersama-sama dalam rumah tersebut. Seperti layaknya penduduk desa, sang Kakak memiliki rutinitas untuk bekerja menggarap ladang dan kebun setiap harinya. Sang Istri mengerjakan pekerjaan rumah dan ditemani oleh sang Adik.

Lambat laun sang Adik entah mungkin mempunyai rasa terhadap istri sang Kakak dan mulai menggodanya. Sang Adik menggoda Istri sang Kakak ketika sang Kakak pergi bekerja menggarap ladang atau kebun. Perilaku sang Adik tambah hari kian menjadi. Istri sang Kakak yang tidak tahan terhadap perilaku sang Adik kemudian melaporkannya kepada sang Kakak.

Sang Kakak yang mendengar cerita tersebut menjadi marah terhadap sang Adik. Sang Kakak kemudian mengusir sang Adik keluar dari rumah dan pergi sejauh mungkin dari hadapannya. Sang Adik menerima hukuman dari sang Kakak dan akhirnya pergi dari rumah tersebut.

Sesampainya di desa Lasang, sang Adik menoleh ke belakang dan bertanya kepada sang Kakak. Apakah di sini cukup jauh? Sang Kakak menjawab bahwa tempat tersebut belumlah cukup jauh dan meminta sang Adik untuk pergi lebih jauh lagi. Sebelum pergi di tempat tersebut sang Adik menyempatkan diri untuk kencing.

Karena perintah sang Kakak, sang Adik pun berjalan lebih jauh lagi hingga sampai di desa Ranggu. Di desa ranggu tersebut sang Adik kembali bertanya kepada sang Kakak. Jawaban sang Kakak pun sama, kurang jauh dan sang Adik harus berjalan lebih jauh lagi.

Jauh sang Adik berjalan hingga kemudian dia menemukan sebuah desa (di sini saya dan Papa juga lupa apa nama desanya). Saat menoleh kebelakang sang Adik sudah tidak dapat melihat sang Kakak. Sang Kakak pun tidak terdengar menyuruh sang Adik untuk jalan lebih jauh lagi. Sang Adik pun menyimpulkan bahwa desa tersebut sudah cukup jauh dari sang Kakak dan memutuskan untuk berhenti di situ.

Di desa tersebut terdapat sebuah gubuk dengan dua orang penjaga di dalamnya. Dua orang tersebut sedang melakukan Tokong. Dalam pengertiannya Tokong berarti menjaga tanaman di saat malam hari. Diceritakan saat itu, dua orang tersebut sedang menjaga ladang mereka yang sedang siap-siap untuk panen. Karena biasanya saat ladang siap untuk panen, tumbuhan seperti jagung, padi, atau semacamnya terancam di makan oleh babi hutan dan binatang-binatang lainnya.

Sang Adik yang kelelahan setelah berjalan jauh meminta izin kepada kedua orang tersebut untuk dapat istirahat di situ. Kedua orang tersebut pertama-tama tidak menerimanya karena gubuk tersebut tergolong kecil dan hanya cukup untuk diisi dengan dua orang. Entah karena bujuk rayu atau merasa kasihan akhirnya kedua orang tersebut menerimanya.

Sang Adik kemudian meminta izin untuk bermalam di gubuk tersebut dan meminta kedua orang itu untuk pulang. Sang Adik menawarkan diri untuk menjaga ladang tersebut agar tidak diserang oleh binatang yang kelaparan. Kedua orang tersebut sekali lagi menolak permintaan dari sang Adik. Tapi sekali juga entah karena bujuk rayu atau karena apa, kedua orang tersebut menuruti permintaan sang Adik. Mereka berdua pulang ke rumahnya dan mempercayakan ladangnya di jaga oleh sang Adik.

Keesokan harinya kedua orang tersebut kembali ke ladangnya. Mereka kaget melihat bahwa ladangnya sudah tidak ada lagi dan berubah menjadi sebuah bongkahan batu yang besar. Setelah mereka lihat dengan cermat ternyata ladang berserta tumbuhan di dalamnya sudah berada di atas batu besar tersebut. Dan sang Adik yang tidur di gubuk sudah tidak ada lagi.

Watu Umpu

Bongkahan batu besar yang dikenal dengan Watu Umpu tersebut dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai sang Adik. Dan sang Kakak yang mengusirnya adalah Gunung Poco Kuwus itu sendiri. Dan di tempat sang Adik kencing di desa Lasang, kata Papa saya, sekarang menjadi sebuah rawa-rawa yang sangat dalam dan selalu tergenang air karena terdapat sumber air di sana.

Gunung Poco Kuwus dengan puncaknya yang lancip

Di antara Gunung Poco Kuwus dan Watu Umpu terdapat sebuah gunung kecil (tidak tau juga namanya) dengan sebuah desa di atasnya. Gunung kecil ini menjadi pemisah antara Gunung Poco Kuwus dan Watu Umpu. Karena kehadiran gunung kecil ini jugalah yang menjadi penanda bahwa sang Adik (Watu Umpu) sudah tidak terlihat lagi dari pandangan sang Kakak (Gunung Poco Kuwus).

Yang menarik dari Watu Umpu ini, jika dilihat dari samping, batu yang paling depan berbentuk seperti wajah manusia jika dilihat dari arah samping. Wajah tersebut lengkap dengan bagian dahi, mata, hidung, mulut, dagu, hingga (katanya) jenggot. Batu berbentuk wajah dari samping tersebut terlihat menghadap langsung ke arah Gunung Poco Kuwus, sang Kakak.

Bagian paling kiri. Terlihat seperti ada rongga mata, hidung, dan mulut

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Google, Watu Umpu ini berlokasi di kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. Untuk nama desanya sendiri saya kurang tau. Tetapi berdasarkan daftar nama desa, di kecamatan Welak terdapat nama desa Watu Umpu. Mungkin saja, ini menurut saya sendiri, Watu Umpu tersebut terdapat di desa Watu Umpu. Dari Laboan Bajo lokasi Watu Umpu ini bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 3 jam menggunakan mobil atau sepeda motor.

Seperti halnya cerita rakyat atau legenda pada umumnya, cerita Watu Umpu ini benar tidaknya tidak ada yang tau. Cerita rakyat ini diwariskan secara turun temurun melalui lisan yang diceritakan oleh orang tua kepada keturunannya. Adanya penambahan atau pengurangan cerita dapat terjadi. Dalam tulisan ini saya menceritakan cerita rakyat Watu Umpu berdasarkan cerita dari Papa saya yang didapatkannya dari supir travel yang memang sama-sama berasal dari desa Lasang. Kurang atau lebihnya cerita ini mungkin dapat dikoreksi bagi siapa saja yang mungkin juga pernah mendengar cerita rakyat atau legenda Watu Umpu ini.

Tinggalkan Balasan