Kuliner Malam di Warung Mie Pak Tomie Nganjuk

Ada salah satu kuliner yang selalu membuat saya penasaran ketika melewati Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Letaknya berada di pojok sebuah jalan bernama Jalan Jenderal Gatot Subroto yang merupakan jalur utama antar provinsi di Kabupaten Nganjuk. Kuliner tersebut bernama Warung Mie Pak Tomie yang selalu ramai oleh pengunjung bahkan ketika malam sudah berganti hari.

Kabupaten Nganjuk selalu saya lewati ketika ingin berkunjung ke rumah Nenek yang ada di Madiun, namun saya belum pernah mampir ke Warung Mie Pak Tomie tersebut. Hingga pada tanggal 14 Juni kemarin, akhirnya saya berkesempatan untuk mampir ke Warung Mie Pak Tomie. Alasannya karena pada saat itu saya dan Mama sedang terjebak macet arus mudik di Kabupaten Nganjuk. Padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Karena akibat macet yang panjang dan perut sudah minta diisi, maka saya memutuskan untuk berhenti di Warung Mie Pak Tomie.

Warung Mie Pak Tomie merupakan sebuah warung kecil yang sederhana yang sudah berdiri sejak tahun 1980. Sangking kecilnya warung mie tersebut, pengunjung yang tidak kedapatan meja makan di bagian dalam warung bisa beralih ke bagian belakang warung. Di bagian belakang warung ini terdapat juga beberapa meja makan. Bahkan jika terlalu ramai, banyak pengunjung yang juga rela makan lesehan di trotoar jalan dengan beralaskan karpet.

Sesuai namanya, menu utama dari warung ini adalah masakan mie. Maka dari itu saya memesan mie goreng dan Mama memesan mie kuah. Meskipun begitu Warung Mie Pak Tomie ini juga menjual nasi goreng dan krengsengan. Yang menarik dari warung satu ini adalah cara memasaknya olahan masakannya. Masakan di sini dimasak dengan wajan besar yang dipanasi menggunakan arang atau bara kayu. Besar api dari bara tersebut disesuaikan dengan sebuah mesin kipas yang bisa jadi adalah rakitan dari warung mie ini sendiri.

Begitu mie goreng hadir di depan saya, tak butuh waktu lama bagi saya untuk menghabiskannya. Entah karena efek lapar atau apa menurut saya porsi mie goreng di sini tergolong sedikit. Bagi yang suka makan banyak, mungkin satu porsi tidak akan cukup. Mie yang digunakan di sini berbentuk pipih dengan menggunakan daging ayam kampung.

Saya juga sempat mencicipi mie kuah yang dipesan oleh Mama. Menurut saya, untuk mie kuah di Warung Mie Pak Tomie ini juara rasanya. Kuah yang kental dan beraroma telur memberikan paduan rasa yang benar-benar enak. Apalagi dimakannya saat tengah malam, panasnya kuah mampu menghangatkan suasana. Saya jadi sedikit menyesal kenapa tidak memesan yang mie kuah saja. Karena bagi saya untuk segi rasa mie kuah di sini lebih enak dibandingkan dengan mie gorengnya. Ya meskipun sebenarnya tidak bisa disamakan karena cara masaknya juga benar-benar berbeda.

Untuk satu porsi mie goreng dan mie kuah masing-masing berharga Rp. 17.000,00. Cukup mahal memang untuk ukuran warung mie pinggir jalan. Tapi jika bicara soal rasa, saya rasa harga tersebut pantas untuk satu porsi olahan mie di warung ini. Warung Mie Pak Tomie ini buka setiap hari dari jam 12.00 siang hingga 02.00 malam.

Dari informasi yang saya dapat, ternyata nama Tomie dari warung mie ini bukanlah nama asli dari pemilik warung. Nama pemilik warung tersebut adalah Bapak Suyoto dan dipanggil sebagai Pak To. Karena Pak To berjualan mie akhirnya panggilan tersebut berganti menjadi Pak Tomie. Selain di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Warung Mie Pak Tomie mempunyai cabang di Kecamatan Sukomoro. Cabang tersebut masih terletak di Kabupaten Nganjuk dan juga terletak di pinggir jalan antar provinsi Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan