Komodo Dragon yang Mendunia

Saat di Pulau Rinca saya mendapatkan banyak informasi mengenai komodo dari ranger kami, Kuba. Informasi tersebut mengenai cara hidup dan perilaku komodo di Pulau Rinca. Informasinya cukup panjang dan saya sengaja menuliskannya dalam postingan yang berbeda. Semoga saja informasi ini dapat menjadi referensi bagi siapa saja yang akan mengunjungi Taman Nasional Pulau Komodo.

Komodo memang menjadi daya tarik utama ketika pertama kali mengunjungi Taman Nasional Komodo. Spesies kadal terbesar ini disebut-sebut sudah ada sejak 40 juta tahun yang lalu. Sebagai hewan purba, banyak wisatawan yang ingin melihat komodo secara langsung. Keunikannya bahkan sampai menyebabkan lokasi Taman Nasional Komodo menjadi situs heritage dunia.

Jenis kelamin dari  komodo dapat dilihat dari ukurannya. Jika komodo jantan maka komodo tersebut memiliki badan dan kepala yang besar serta ekor yang panjang. Jika komodo itu betina maka memiliki badan yang kecil, kepala yang kecil dengan sedikit meruncing, dan memiliki ekor yang lebih pendek.

Habitat komodo dapat ditemukan di tiga pulau besar yaitu di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar serta pulau kecil yaitu Gili Motang dan Nusa Kode. Menurut Kuba untuk populasi komodo di Pulau Rinca, saat saya ke sana, kurang lebih 1500. Dengan perbandingan 3:1 dimana populasi jantannya yang lebih banyak. Hal tersebut disebabkan dari temperatur yang ada di dalam sarang. Jika temperaturnya hangat maka komodo jantan yang muncul. Namun jika temperaturnya dingin maka komodo betina yang muncul.

Untuk dapat berkembang biak, komodo jantan harus bertarung dulu dengan komodo jantan lainnya. Siapa yang menang dan terkuat di antara mereka dapat kawin dengan komodo betina yang mana saja di wilayahnya. Jadi artinya komodo jantan yang memenangkan pertarungan dapat memiliki semua betina. Sedangkan betinanya hanya menuruti komodo yang memenangkan pertarungan. Mereka tidak menerima komodo lain selain komodo jantan yang menang tersebut.

Setelah melakukan perkawinan, dimana sekitar bulan Juni dan Juli, komodo betina akan menghasilkan telur kurang lebih sebanyak 30 butir. Pada bulan September komodo betina tersebut akan mengeluarkan telurnya di dalam sarang. Namun komodo tidak bisa membuat sarangnya sendiri. Sarang yang digunakan oleh komodo merupakan sarang bekas milik burung gosong. Burung tersebut sejenis dengan burung maleo.

Burung gosong tersebut membuat sarang dengan menggali tanah berbentuk lubang yang memiliki kedalaman satu meter. Di situlah burung gosong menaruh telur-telurnya. Telur-telur tersebut akan menetas pada awal bulan September. Setelah menetas, anak dari burung gosong akan meninggalkan sarang tersebut. Sarang yang kosong itulah yang kemudian digunakan oleh komodo betina untuk menaruh telur-telurnya.

Namun dalam proses mendapatkan sarang itu, komodo betina harus bertarung habis-habisan dengan komodo betina lainnya. Komodo betina yang menang akan mendapatkan sarang. Sedangkan yang kalah akan mencari ke tempat lain. Barulah setelah mendapatkan sarang komodo betina dapat menaruh telurnya di sana.

Sebelum telurnya dikeluarkan, komodo betina akan menggali lagi sarang tersebut. Namun bentuk galiannya adalah mendatar ke samping sepanjang satu meter. Maka bentuk sarang tersebut seperti halnya huruf L dengan satu meter ke dalam dan satu meter lagi mendatar ke samping. Setelah menaruh telurnya, maka komodo betina akan menutup sarangnya. Sarang yang ditutup hanyalah sarang yang satu meter ke bawah. Sedangkan yang satu meter mendatar akan berbentuk rongga. Supaya anak komodo yang menetas akan dapat keluar dengan sendirinya.

Setelah sarang selesai di tutup komodo betina akan membuat beberapa lubang baru disekitar sarang yang asli. Lubang-lubang tersebut dibuat sebagai kamuflase atau pengecoh bagi pemangsa maupun komodo lain yang ingin memangsa telur-telur tersebut. Komodo betina akan menjaga sarang tersebut selama 3 bulan penuh untuk menunggu musim hujan datang. Karena jika hujan turun lubang-lubang tersebut baru akan tertutup baik dari air hujan maupun tanah serta dedaunan. Sehingga menurut komodo betina sarang tersebut aman untuk ditinggal.

Masa pengeraman telur komodo antara 8 hingga 9 bulan. Dari banyaknya telur yang dihasilkan hanya beberapa butir saja yang dapat menetas. Setelah menetas anak komodo akan menuju pohon. Pohon tersebut akan menjadi tempat tinggalnya hingga 3 sampai 4 tahun lamanya. Alasan anak komodo tinggal di atas pohon adalah untuk melindungi diri dari pemangsanya. Dimana pemangsa anak komodo tersebut adalah komodo-komodo yang lebih besar. Bahkan induknya sendiri bisa saja menjadi pemangsa dari anak komodo tersebut.

Di atas pohon anak komodo hanya akan memakan serangga atau hewan yang juga hidup di atas pohon. Seiring berjalannya waktu dia akan turun pohon untuk mencari makanan. Makanan dari anak komodo juga berasal dari bangkai hewan hasil mangsa dari komodo yang lebih besar. Setelah memangsa bangkai hewan tersebut barulah anak komodo tersebut mendapatkan bakteri yang dikenal sangat mematikan bagi mangsanya.

Selain badannya yang besar, komodo juga terkenal dengan bakteri yang dimiliki dalam mulutnya. Bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan yang fatal hingga kematian bagi para mangsanya. Kerbau yang berukuran besar jika mendapatkan gigitan komodo akan mati dalam waktu 7 hari. Sedangkan jika rusa yang mendapatkan gigitan akan mati saat itu juga.

Sebagai predator komodo memiliki mangsa yang diantaranya adalah rusa, kerbau, babi hutan, dan juga hewan-hewan yang telah mati. Hewan-hewan tersebut tumbuh berkembang dalam Taman Nasional Komodo ini dan hidup berdampingan satu sama lain. Meskipun sebagai tempat wisata, pengelola membuat Taman Nasional Komodo ini sealami mungkin sehingga tidak mengganggu ekosistem yang ada di dalamnya.

Komodo berjalan dengan lambat ketika sedang tidak berburu. Namun ketika memburu mangsanya komodo dapat berlari sangat kencang. Komodo menggunakan lidahnya untuk mendeteksi partikel di udara. Lidah tersebut juga membuat komodo dapat mencium hingga mencapai jarak kurang lebih 4 kilometer. Jadi di usahakan jika mengunjungi tempat wisata ini, pengunjung tidak sedang terluka atau mengeluarkan darah. Atau jika mungkin konsultasikan dulu ke ranger baiknya gimana untuk melakukan wisata di Pulau Rinca ini.

Berwisata melihat komodo merupakan wisata yang aman dengan catatan selalu ditemani oleh para ranger. Ranger-ranger di sini memang dilatih untuk mengetahui perilaku komodo dan menjaga para wisatawan. Para ranger dipersenjatai dengan tongkat panjang bercabang yang digunakan untuk mengusir dan menekan komodo agar menjauh dari para wisatawan.

Untuk kecelakaan memang pernah beberapa kali terjadi di Taman Nasional Komodo ini. Namun dari informasi yang saya dapatkan, kecelakaan tersebut disebabkan karena kelalaian dari wisatawan itu sendiri yang tidak mengindahkan himbauan para ranger. Beberapa kasus juga pernah terjadi di pemukiman warga yang jauh dari tempat wisatawan. Jadi usahakan bagi para pengunjung untuk selalu dekat dan dalam pengawasan para ranger. Jika ingin foto-foto dengan komodo juga usahakan bilang ranger dulu agar bisa disesuaikan kondisinya.

Informasi-informasi di atas saya dapatkan dari ranger yang menemani kami, papan informasi di pos wisata, dan pengamatan yang saya lakukan. Semoga dapat memberikan informasi berguna bagi siapa saja yang akan berkunjung untuk melihat komodo secara langsung di habitatnya. Jika ada kurang dan lebihnya saya mohon maaf dan mohon juga untuk dikoreksi.

Tinggalkan Balasan