Kesederhaan Bisnis Widya Pratama dalam Menjalankan Bisnis Kopi Aroma

Sabtu (31/1), saya mendapatkan kesempatan untuk ngobrol dengan pemilik Kopi Aroma, yaitu Widya Pvratama (64). Kopi Aroma awalnya didirikan oleh mendiang ayah Widya, Tan Houw Sian. Berbekal pengalaman dan modal yang didapatkan Tan Houw Sian dari berkerja di salah satu pabrik milik Belanda kala itu, beliau akhirnya mendirikan Kopi Aroma pada tahun 1930.Mendirikan usaha 7M itu harus ada. 7M itu adalah Men, Money, Material, Machine, Method,  Market, and Management. Hal ini disampaikan oleh Widyapratama pemilik Kopi Aroma saat ditemui di Pabrik Kopi Aroma di Jalan Banceuy no. 51, Bandung. “7M itu harus seimbang, kalau tidak perusahaan bisa hancur. Karena tujuan didirikannya sebuah usaha adalah mencari laba,” ujarnya.

Produk sebuah perusahaan haruslah spesial, tetapi haruslah low price, karena prosesnya harus low cost. Yang membuat Kopi Aroma spesial karena biji kopinya masih ditunggu 8 tahun untuk arabica dan 5 tahun untuk robusta. Tujuannya adalah mengurangi kadar keasaman yang ada dalam kopi, sehingga ketika diminum tidak menyebabkan perut menjadi kembung. Selain itu, kopi yang sudah diproses juga baik bagi kesehatan peminumnya.

6

3
Jadi pengusaha itu harus jujur, karena tujuannya adalah untuk mencari laba yang digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan. “Laba tersebut kemudian digunakan untuk ekspansi, menjaga pelanggan, menjaga kesejahteraan hidup karyawan, dan pada akhirnya adalah tabungan untuk ke akhirat,” ujarnya. Widya memang menerapkan prinsip kejujuran dalam usahanya.

Kopi Aroma mengambil biji kopi langsung dari kebun sendiri maupun dari petani kopi yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahan bakarnya yang merupakan limbah kayu karet juga diambil sendiri dari petani.  Sehingga Kopi Aroma tidak mempunyai perantara. Hal ini dapat menjadi faktor dalam membuat standar low cost terhadap produknya. Selain itu dengan tidak adanya perantara kemungkinan terjadinya korupsi menjadi tidak ada.

8

1

Menurut Widya,memulai usaha tidak harus memiliki modal duit yang banyak. Modal jaringan yang banyak pun cukup untuk memulai suatu usaha. Asalkan dilandaskan dengan kepercayaan. “Meskipun kita mempunyai modal duit yang banyak, tetapi tidak mempunyai skill dan pengalaman, modal duit itu bisa habis,” ujarnya.

Menanggapi pelaku usaha lain dibidang yang sama, Widya tidak merasa tersaingi. Dia justru senang karena mereka juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan. “Jangan dianggap saingan, karena kita masing-masing memiliki keunggulan terhadap produk sendiri,” ujarnya.  Mereka bukanlah saingan, tetapi mereka adalah pembanding dari produk yang kita produksi.

7

2

Tahun 1980, Widya sempat bimbang antara menjadi dosen atau meneruskan usaha Kopi Aroma yang sedang dijalankannya. Tetapi pada akhirnya dia memutuskan untuk menjalankan keduanya. Karena memang jiwanya ada dipabrik Kopi Aroma. Juga karena dia merupakan anak tunggal yang bertugas untuk meneruskan usaha Kopi Aroma ini.

Dari hasil yang didapatkannya dari menjadi dosen, Widya juga menghidupi banyak anak yatim piatu diberbagai panti asuhan di Bandung. “Hidup itu harus berbagi dengan yang lain, jangan diambil untuk kepentingan satu orang saja.” ujarnya. Yang penting bagi Widya dia dapat berkecukupan setiap harinya, anak bisa mendapatkan pendidikan, dan kelangsungan perusahaan bisa terjaga.

5

Harapan Widya, dari ketiga anaknya ada yang mau meneruskan usaha Kopi Aroma ini. Menurutnya jika tidak ada yang meneruskan usaha kopi ini, konsumennya tidak dapat lagi menemukan kopi yang bukan hanya enak tetapi juga sehat.

Di sini kopi yang dijual merupakan jenis arabica dan robusta. Tergantung permintaan konsumen apakah ingin membeli bubuk atau yang masih roasted. Konsumen selalu dibatasi membeli paling banyak 5kg kopi. Karena memang produk yang dia miliki terbatas. Sehingga semua orang dari berbagai jenis kelas dapat menikmati kopinya. “Jadi orang jangan serakah, kalau memang mampunya segitu yaudah belinya segitu aja,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan