Kawah Wurung Bondowoso, 8 Januari 2017

Setelah istirahat cukup lama dan mengumpulkan tenaga di Pos Paltuding, kami segera melanjutkan perjalanan ke Kawah Wurung dengan menggunakan trooper sewaan. Perjalanan yang kami tempuh memakan waktu sekitar 45 menit untuk tiba dilokasi. Waktu tersebut saya coba gunakan untuk berusaha tidur, hanya saja sayang tidak bisa. Jalan yang di lalui ternyata banyak yang rusak dan berlubang sehingga membuat penumpang di dalam trooper bergoyang hebat ke kiri dan ke kanan.

Sepanjang perjalanan, karena saya tidak bisa tidur, ternyata kami melewati perkebunan kopi arabika yang masuk ke dalam kawasan PT. Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Karena masuk ke dalam kawasan perkebunan, di pos masuk perkebunan kami harus lebih dulu mengisi daftar tamu yang tidak di pungut biaya. Setelah mengisi daftar tamu perjalanan kembali dilanjutkan menggunakan trooper. 

Sekitar satu kilo dari pos, trooper kami berbelok ke kiri meninggalkan jalan utama. Di sini kami masih membelah kebun kopi hingga bertemu suatu desa. Desa di sini, menurut penuturan supir trooper, ditempati oleh para pegawai-pegawai kebun kopi. Yang menariknya, rumah-rumah di setiap desa di kawasan PTPN XII ini pekarangannya dihiasi dengan berbagai tanaman yang indah yang cukup memanjakan mata. Sayang saya lupa untuk memotretnya, mungkin karena badan yang terlalu lelah hingga malas mengeluarkan tas dari kamera.

Lepas dari desa tersebut, jalan yang semula aspal berubah menjadi jalan batu. Di beberapa bagian juga jalan yang dilalui cukup menanjak. Pikir saya, untung pakai trooper ke sini, kalau pakai mobil pribadi mungkin tidak sanggup. Tetapi pikiran saya dengan cepatnya terbantahkan. Kami berpapasan dengan mobil Avanza yang menuju jalan pulang. Setelah kami masuk ke tempat wisata, ternyata banyak juga mobil yang terpakir di sini. Kalau motor tidak usah di tanya, sudah pasti bisa melewati jalan berbatu. Bahkan jika berani dan sanggup, motor pun juga bisa digunakan untuk menjelajah kawasan Kawah Wurung ini.

dsc_2234-copy

Kawah Wurung sendiri merupakan kawasan perbukitan dengan hamparan rerumputan hijau  yang sangat luas membentuk savana. Kurang lebih jika dibayangkan seperti bukit hijau di film Teletubbies. Tidak ada kawah berisi belerang atau danau asam seperti kawa pada umumnya di sini. Menurut penuturan supir trooper lagi, didukung dengan sumber dari Mbah Google, Kawah Wurung merupakan kawah gunung yang tidak jadi. Berdasarkan pengertian dari bahasa jawa sendiri, kata “wurung” sendiri bisa diartikan sebagai “urung” atau “belum” jadi. Untuk kebenarannya saya juga tidak tau. Di Mbah Google saya cari-cari juga tidak ada, atau lebih tepatnya belum menemukan informasi tersebut.

dsc_2226-copy

dsc_2182-copy

Karena badan yang sudah terlalu capek, supir trooper mengantarkan kami sampai puncak. Sebenarnya saya juga tidak tau mengapa di sebut puncak, karena sebenarnya masih ada tempat yang lebih tinggi disekitaran kami. Tapi ya sudahlah mungkin karena tempat ini adalah salah satu spot titik pandang tertinggi yang bisa dilalui oleh trooper untuk melihat keindahan padang savana Kawah Wurung. Dengan badan yang lemas saya paksakan diri untuk keluar trooper.

dsc_2184-copy

dsc_2179-copy

Kami tidak menghabiskan waktu yang lama di sini. Di sini kami hanya berfoto-foto ria dan duduk-duduk saja sambil menikmati keindahan Kawah Wurung dari ketinggian. Kata supir trooper lagi, bukit yang berada di tengah Kawah Wurung ini bisa dikunjungi dengan berjalan kaki. Hanya saja melihat dari ketinggian, jarak yang ditempuh untuk bisa ke sana terbilang jauh. Belum lagi urusan turun naik gunungnya itu. Maka kami urungkan niatan untuk berjalan ke bukit tersebut.

Puas menikmati keindahan Kawah Wurung, kami melanjutkan perjalanan ke Arabica Homestay & Jampit Guesthouse. Bukan untuk menginap melainkan untuk mengunjungi cafe-nya saja. Di cafe ini memang terkenal dengan sajian kopi arabica khas perkebunan kopi PTPN XII. Kopi yang disajikan pun diseduh secara secara tradisional, atau nama kerennya adalah kopi tubruk. Saya juga menyempatkan untuk membeli biji kopi yang sudah matang untuk saya seduh di rumah.

Setelah itu, karena paket wisata sudah habis, kami langsung pulang menuju kediaman Michael di Bayuwangi. Jarak tempuh dari Arabica Homestay & Jampit Guesthouse ke rumah Michael sekitar satu setengah jam. Waktu tersebut saya gunakan untuk tidur di trooper, dan untungnya bisa. Setidaknya meskipun tidur saya sedikit saya bisa mengumpulkan tenaga kembali untuk melanjutkan tugas saya sebagai supir. Karena setibanya di rumah Michael, setelah bebersih dan makan, kami langsung tancap gas menuju ke Surabaya.

dsc_2225-copy

dsc_2214-copy

Tinggalkan Balasan