Kawah Ijen Banyuwangi, 8 Januari 2017

Awal tahun 2017, saya dengan enam orang teman di Surabaya sudah memiliki rencana untuk pergi liburan dengan destinasi utama Kawah Ijen. Keenam teman tersebut adalah Yulanda, Esti, Sean, Michael, Sisca, dan Tika. Beberapa dari mereka memang sudah sering berplesiran bareng saya sebelumnya, hingga seakan-akan sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya. Setelah sepakat, akhirnya kami berangkat ke Kawah Ijen pada tanggal 7-8 Januari.

Jadi rencana awalnya begini. Berangkat dari Surabaya tanggal 7 Januari pada jam 3 sore menggunakan mobil. Menempuh delapan jam perjalanan dan sampai di Banyuwangi jam 11 malam. Istirahat sebentar di vila sewaan kemudian menuju Pos Paltuding jam 1 pagi dan start mendaki pada jam 2 malam untuk mengejar blue fire yang fenomal tersebut. Dan kemudian itu semua hanya menjadi rencana.

Nyatanya kami bertujuh berangkat dari Surabaya jam 4 sore. Baru sampai di Pasuruan, ternyata ada proyek perbaikan jalan dan terpaksa bermacet-macet ria selama dua jam. Hampir membuat putus asa, tapi kami tetap melanjutkan perjalanan. Sampai di Bayuwangi jam setengah 2 pagi, membatalkan rencana nginap di vila, akhirnya berkunjung ke rumah Michael karena keluarganya memang orang Banyuwangi.

Tanpa istirahat sedikitpun, kami langsung bersiap-siap untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Pos Paltuding menggunakan trooper sewaan demi mengejar waktu matahari terbit. Sesampainya di Pos Paltuding, dan lagi-lagi tanpa istirihat demi mengejar matahari terbit, kami segera memulai pendakian sejauh 3 kilometer.

Jika saya tidak salah ingat, kami mulai mendaki pada jam 3 lewat 15 menit. Pada jam tersebut sudah sangat tidak mungkin bagi kami untuk melihat blue fire yang fenomenal. Blue fire tidak dapat, sebisa mungkin pemandangan matahari terbit bisa kami dapatkan. Itu pikir kami pada awalnya, dan kedua kali rencana kami gagal lagi.

Sekitar 300 atau 400 meter mendaki, teman kami Sean yang memang sedikit lebih berisi badannya, merasa kelelahan. Yasudah kami istirahat sebentar untuk memberi nafas. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan. Tetapi lagi-lagi, sekitar jarak 200 meter Sean kelelahan. Akhirnya kami memutuskan, dalam jarak beberapa meter kami beristirahat untuk memberi nafas Sean. Dan dari situ juga, kami memutuskan untuk tidak memaksakan melihat matahari terbitYang penting kami bertujuh bisa sama-sama sampai puncak Gunung Ijen.

Belum setengah perjalanan mendaki, sang surya sudah mulai terlihat dari balik awan. Dengan adanya sinar matahari keindahan kawasan pegunungan ijen menjadi semakin jelas. Dalam jarak beberapa meter kami menyempatkan diri berhenti untuk sekedar berfoto-foto ria menangkap keindahan kawasan pegunungan Ijen. Kami melanjutkan pendakian dengan menikmati sajian pemandangan yang indah tersebut. Sekalian juga memberi istirahat kepada Sean untuk mengumpulkan nafas.

dsc_2009-3

dsc_2036-2

Ternyata di jalur pendakian ini terdapat ojek bagi para pendaki yang kelelahan. Ojek tersebut adalah sebuah gerobak dorong yang digunakan penambang untuk mengangkut belerang dari kawah. Ojek tersebut ternyata dilengkapi dengan rem tangan, sehingga tidak perlu khawatir tergelincir. Sepanjang pendakian, saya melihat jasa ojek ini ternyata banyak juga peminatnya. Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu yang sudah tidak kuat mendaki atau tidak kuat turun ketika sudah sampai di puncak. Saya lupa menanyakan berapa ongkos yang harus dikeluarkan jika ingin menggunakan jasa ojek tersebut. Tetapi kata Michael, yang memang sering ke sini, ongkos ojek tersebut terbilang mahal. Jika menggunakannya untuk mendaki lalu turun, ongkos yang harus dikeluarkan bisa mencapai 800 ribu rupiah. Menurut saya pribadi, harga mungkin bisa ditawar menawar tergantung dari situasi dan kondisi.

dsc_2067-copy

Setelah tiga jam lebih mendaki, kami akhirnya sampai juga di puncak yang memiliki ketinggian 2.386 mdpl menurut informasi yang ada di Pos Paltuding. Jika saya tidak salah ingat waktu menunjukkan jam setengah 7 dan Kawah Ijen sudah banyak mengeluarkan asap vulkanik. Pada saat kami di puncak, angin berhembus ke arah spot wisatawan sehingga menyebabkan kabut tebal yang menutup pemandangan, ditambah dengan bau belerang yang sangat menyengat. Untung saja di puncak terdapat jasa penyewaan masker.

dsc_2109

dsc_2120

Tak habis pikir juga menurut saya masyarakat sini untuk memanfaatkan segala aspek untuk mencari rejeki. Masker tersebut merupakan masker khusus untuk menyaring belerang. Karena saya tidak tahan dengan bau belerang, saya memutuskan untuk menyewa masker dengan mengeluarkan ongkos 25 ribu rupiah. Masker yang disewakan saringannya selalu diperbaharui. Jadi tidak perlu khawatir bahwa masker tersebut bekas digunakan orang. Para penyedia jasa sewa masker tersebut membedakan mana masker yang sudah dipakai dan mana yang belum dipakai.

dsc_2130

Di bibir kawah, terlihat semakin banyak penambang belerang Kawah Ijen yang berlalu-lalang membawa hasil tambangan. Para penambang tersebut masih menggunakan cara tradisional dalam menambang belerang. Mereka rela turun ke dasar kawah dengan peralatan keamaan ala kadarnya demi mendapatkan belerang. Tak sampai disitu, mereka kemudian mengangkut hasil tambang belerang dengan menggunakan keranjang pikul ke puncak kawah. Di puncak kawah, belerang dari keranjang pikul dipindahkan ke gerobak dorong untuk kemudian dibawa turun sejauh tiga kilometer. Dibeberapa sudut pendakian, saya melihat beberapa kerajinan yang dibuat dari belerang tersebut. Lagi-lagi saya lupa tanya harga kerajinan tersebut karena memang tidak ada niatan untuk membelinya. Kreatifitas tersebut patut diacungi jempol dan cocok dijadikan oleh-oleh khas Kawah Ijen.

dsc_2094

dsc_2010-copy

Setelah puas menikmati keindahan Kawah Ijen kami memutuskan untuk turun. Ternyata untuk urusan turun gunung, bagi saya lebih melelahkan daripada saat mendaki. Pada saat turun kaki harus lebih berhati-hati karena jalan yang cukup curam dan licin. Apalagi saat turun beban lebih terasa dibandingkan saat mendaki. Di Pos Paltuding kami segera menaruh segala barang bawaan di trooper dan langsung menuju warung terdekat untuk mengisi lagi tenaga. Karena memang perjalanan kami belum habis sampai di sini saja.

Mendaki Gunung Ijen tergolong mudah. Treknya hanya satu dan sudah sangat jelas untuk didaki. Jadi kemungkinan untuk tersesat sangatlah kecil. Berdoa dan meminta ijin kepada Tuhan sangat dianjurkan agar perjalanan menjadi lebih lancar. Pesona Kawah Ijen mungkin akan membawa saya kembali lagi ke sini untuk kedua kalinya. Karena memang saya masih penasaran dengan blue fire yang katanya hanya ada dua di dunia tersebut.

dsc_2118

dsc_2127

Tinggalkan Balasan