Gagal Sandboarding di Gumuk Pasir Yogyakarta

Never ending Asia mungkin memang cocok disematkan untuk kota Yogyakarta. Banyaknya tempat wisata yang ditawarkan oleh daerah ini, baik itu kota maupun kabupatennya, selalu menarik wisatawan untuk kembali lagi mengunjungi Yogyakarta. Begitupun dengan saya. Baru bulan Mei 2017 kemarin mengunjungi Yogyakarta, dipekan terakhir di bulan Oktober saya berkesempatan untuk mengunjungi Yogyakarta lagi.

Trip ini sangat saya tunggu-tunggu karena transportasi yang saya gunakan untuk ke Yogyakarta adalah menggunakan mobil. Yang artinya saya nyetir, tentunya tidak sendiri karena gantian dengan teman, karena saya sudah terbilang lama tidak nyetir mobil dengan jarak yang jauh. Oh ya, di trip ini saya ditemani oleh kelima teman. Sebut saja mereka sebagai Lando, Evan, Adit, Tasya, dan Sandra.

Kami berenam tiba di Yogyakarta pada jam 12 siang dan langsung menuju ke Gumuk Pasir yang terletak disebelah Pantai Parangkusumo sebagai destinasi pertama kami. Sepanjang perjalanan dari kota menuju Gumuk Pasir, saya sudah terbayang-bayang untuk mencoba sandboarding yang memang kerap dilakukan oleh wisatawan ketika mengunjungi Gumuk Pasir. Pasti rasanya bakal asyik meluncur di pasir menggunakan papan seperti orang-orang di media sosial yang sudah pernah melakukannya. Namun kenyataannya tidak demikian.

Begitu sampai di lokasi hal pertama yang saya lakukan adalah menanyakan harga sewa dari papan seluncur. Harganya sewa sepuasnya yang dipatok adalah Rp. 100.000,00/papan. Karena trip kali ini bisa dibilang low budget, saya hanya bawa Rp. 400.000,00 untuk segala keperluan selama di Yogya, saya bertanya kepada teman-teman apakah mau patungan atau tidak. Mereka bilang tidak usah karena mereka tidak tertarik. Alasannya karena hawanya sedang panas-panasnya dan capek untuk melakukan sandboarding. Dan saya yang tidak mampu bayar seorang sendiri terpaksa harus mengurungkan dan menunda niat untuk merasakan sensasi meluncur dari bukit pasir.

Untuk mengobati kekecewaan saya langsung mengikuti teman-teman yang sudah mendahului menuju ke tengah-tengah gumuk pasir. Karena memang datang pada siang hari kami harus rela bersahabat dengan panasnya terik matahari. Topi dan kacamata hitam merupakan barang yang wajib dibawa ketika mengunjungi lokasi wisata satu ini.

Gumuk Pasir Yogyakarta bisa dibilang sebagai padang pasir mini yang terletak di daerah pesisir. Dari informasi yang saya dapat, Gumuk Pasir ini terbentuk secara alami yang berasal dari abu vulkanik dari pegunungan yang berada disekitaran daerah Yogyakarta. Abu vulkanik tersebut terbawa oleh aliran sungai hingga sampai ke daerah muara. Kemudian abu vulkanik yang mengering akan terbawa angin. Proses tersebut terjadi berulang-ulang dan dalam waktu yang lama sampai membentuk gundukan pasir yang luas.

Dalam bahasa Indonesia kata Gumuk berarti gundukan. Gundukan pasir yang tersebar diwilayah Gumuk Pasir inilah yang digunakan untuk olahraga sandboarding. Bentuk Gumuk Pasir dipengaruhi oleh angin sehingga bentuknya akan terus berubah-ubah.

Bentuk-bentuk gundukan pasir yang unik membuat tempat ini juga cocok sebagai tempat untuk mengambil gambar. Tak jarang beberapa artis nasional turut memanfaatkan Gumuk Pasir sebagai tempat untuk mengambil gambar. Ketika saya ke sana, dibeberapa titik disediakan oleh pengelola beberapa ornamen-ornamen untuk mempercantik foto. Diantaranya adalah ayunan, gazebo, tulisan Gumuk Pasir, dan lain sebagainya.

Karena saya dan teman-teman tidak mencoba sandboarding, maka yang kami lakukan adalah foto-foto saja. Memang benar keunikan dari gundukan-gundukan pasir dan pemandangan dari perbukitan dipesisir Yogyakarta ini sangat cocok sebagai latar belakang dari sebuah foto. Terik matahari yang menyengat kepala membuat kami tak tahan akan panasnya. Puas berfoto-foto ria kami memutuskan kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan.

Tinggalkan Balasan