Flores Trip – Beginning of the Journey

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Setelah direncanakan 3 bulan yang lalu, kurang lebih bulan Mei, kami akhirnya berangkat juga ke Flores Nusa Tenggara Timur. Lebih tepatnya ke Desa Lasang, kampung halaman Papa saya. Selain untuk pulang kampung kepergian kami ke Flores juga untuk merayakan pesta perak Romo Stefanus Magut. Romo Steff sendiri merupakan kakak dari Papa saya.

Liburan keluarga ini saya sengaja buat dalam beberapa tulisan. Untuk tulisan kali ini saya ingin menceritakan tentang perjalanan dari Surabaya hingga sampai di kampung halaman Papa. Hal tersebut karena saya ingin menunjukkan pemandangan selama kami melakukan perjalanan dari Labuan Bajo ke Desa Lasang. Pemandangan-pemandangan sangat sayang, menurut saya, bila tidak dibagikan ke dalam blog ini.

Perjalanan saya mulai dari Surabaya menggunakan maskapai Lion Air ke Kupang pada hari Minggu (20/8). Hanya saya dan mama yang berangkat. Papa berangkat esoknya pada hari Senin (21/8). Kemudian dari Kupang transit lagi ke Labuan Bajo menggunakan Wings Air. Perjalanan dari Surabaya ke Labuan Bajo total kami tempuh selama 5 jam perjalanan. Hal tersebut merupakan perjalanan udara terlama bagi saya. Untuk perjalanannya sendiri tidak memiliki kendala. Hanya saja saya memiliki kendala ketika sampai di bandara Labuan Bajo. Untuk cerita lengkapnya dapat dibaca dalam postingan satu ini.

Di Labuan Bajo kami memutuskan untuk menginap di rumah saudara satu malam. Esok harinya kami berangkat menuju ke Desa Lasang menggunakan mobil travel. Mobil travel tersebut layaknya travel pada umumnya, mengangkut orang di berbagai tempat yang memiliki tujuan satu arah. Mobil yang digunakan adalah Toyota Avanza dan kadang-kadang di isi penuh hingga 9 orang di dalamnya. Untung saja waktu itu kami hanya berisi 7 orang termasuk supir di dalamnya.

Perjalanan dengan mobil dimulai dari kota Labuan Bajo. Helatan Tour de Flores beberapa waktu yang lalu membuat jalan provinsi yang kami lewati masih sangat mulus. Dari Labuan Bajo kami harus melewati gugusan pegunungan kecil dengan jalan yang berkelak-kelok naik dan turun. Jalan tersebut sangatlah mulus hingga membuat supir kami memacu pedal gas dalam-dalam. Bahkan di belokan pun kecepatan seakan tidak berkurang sama sekali. Apalagi ditambah dengan dentuman suara musik yang teramat sangat keras untuk ukuran mobil mungkin menjadi pemacu semangat supir tersebut. Saya yang berada di kursi belakang harus lebih berkonsentrasi untuk menahan perut agar tidak mual.

Penderitaan harus saya tahan selama kurang lebih satu jam. Untung saja jalan kelok-kelok tersebut berhenti dan berubah menjadi jalan lurus. Jika jalan berkelak-kelok tersebut jauh lebih panjang, mungkin saya sudah tumbang dan muntah di dalam mobil. Jalanan lurus tersebut dihiasi dengan pemandangan padang savana dan sawah sepanjang jalan. Tidak terlalu lama kami melawati jalanan lurus ini. Kurang lebih 30 menit, kami berbelok di persimpangan dan jalan berubah menjadi tidak semulus sebelumnya.

Supir bilang perjalanan dari situ hingga sampai di kampung kurang lebih memakan waktu 3 jam. Tidak jauh sebenarnya hanya jalan yang dilewati adalah jalan berbatu dan jalan aspal yang tidak rata sehingga membuat perjalanan lebih lama. Meskipun begitu perjalanan di jalan berbatu ini menurut saya jauh lebih baik daripada jalan mulus berkelak-kelok sebelumnya.

Di jalanan berbatu inilah berbagai keindahan alam disuguhkan dalam perjalanan kami. Mobil yang berjalanan pelan-pelan membuat saya dapat lebih menikmati pemandangan-pemandangan tersebut. Di pertengahan jalan saya memperhatikan sebuah bukit yang seperti satu bongkahan batu besar. Bukit batu tersebut bernama Watu Ompo. Terletak di tengah persawahan dan bukit-bukit kecil di sekitarnya. Terdapat sebuah cerita rakyat dari Watu Ompo tersebut, yang saya dapat setelah kepulangan saya dari kampung ayah. Cerita tersebut saya akan tuliskan di artikel yang berbeda.

Setelah melewati Watu Umpu, padang savana lambat laun berubah menjadi hutan seiring bertambahnya ketinggian. Bukan hutan lebat tentunya karena masih bisa dijumpai ladang persawahan. Kurang lebih satu setengah jam dari Watu Umpu kami tiba di salah satu desa (saya lupa namanya) yang terletak di puncak gunung kecil. Dari situ saya dapat melihat gugusan Gunung Poco Kuwus dengan desa-desa kecil yang berada di lembahnya. Kampung Lasang sudah terlihat dari puncak tersebut.

Dari desa tersebut perjalanan untuk sampai ke Desa Lasang kurang lebih satu jam lagi. Pemandangan silih berganti dari mulai hutan, sawah, desa, dan perkebunan yang subur. Pemandangan-pemandangan tersebut cukup mengalihkan perhatian saya agar tidak mual selama perjalanan yang penuh dengan cobaan.

Kami akhirnya tiba di tempat tujuan pukul 5 sore. Total waktu tempuh kurang lebih 5 jam dengan jarak tempuh 45 kilometer. Setibanya di Desa Lasang saya memutuskan langsung istirahat untuk mengembalikan tenaga. Karena esok harinya merupakan awal dari rangakain acara pesta perak yang diselenggarakan selama 2 hari.

5 tanggapan pada “Flores Trip – Beginning of the Journey”

Tinggalkan Balasan