Eksotika Pulau Padar

Trip ke Pulau Rinca yang hanya sebentar tidak membuat saya puas. Apalagi kepulangan saya dan Mama ke Surabaya masih tanggal 29 Agustus, 4 hari lagi semenjak trip kami ke Pulau Rinca. Maka dari itu kami memutuskan untuk mengikuti trip lagi dengan pilihan destinasi yang lebih banyak. Kami mengajak siapa saja keluarga yang mau ikut. Dan hasilnya terkumpulah saya, Mama, Romo Stef, Kak Sefi, Kak Linda beserta anaknya Atila, dan teman saya Sefry.

Keterbatasan biaya membuat kami memilih trip yang hanya satu hari saja, yaitu hari Minggu (27/8). Agen wisata yang kami gunakan juga milik dari suami Kak Linda. Sehingga harga yang kami dapatkan relatif murah karena mungkin ada faktor saudara di situ. Dalam satu hari tersebut destinasi yang kami tuju adalah Pulau Padar, Pink Beach, Pulau Komodo, dan Manta Point. Dalam trip ini selain rombongan kami ada juga rombongan bule sebanyak 4 orang. Seperti agen wisata pada umumnya yang menggabungkan para wisatawan dalam satu trip. Dengan begitu memang biaya wisata akan lebih murah daripada menyewa satu kapal secara pribadi.

Waktu tempuh antar pulau yang lama membuat kami harus berangkat pagi-pagi sekali. Harusnya sesuai jadwalnya kami harus meninggalkan pelabuhan Labuan Bajo pada pukul 5 pagi. Namun karena ada satu dan lain hal, kami baru berangkat pada pukul 1/2 6 pagi. Destinasi pertama kami adalah Pulau Padar yang memakan waktu tempuh salama 3 jam dari Labuan Bajo. Kapal yang kami gunakan kali ini memiliki kapasitas yang lebih besar daripada kapal yang mengatarkan saya ke Pulau Rinca. Sehingga terdapat deck kapal yang bisa digunakan untuk tiduran. Karena faktor masih mengantuk dan bosan, saya memanfaatkan waktu yang lama tersebut untuk tidur.

Tidur selama kurang lebih 2 jam membuat badan dan pikiran saya jadi lebih segar. Tidur juga membuat perjalanan menjadi tidak terasa. Pulau Padar sudah nampak, tinggal sedikit lagi waktu yang dibutuhkan untuk kapal sampai di tujuan. Selama perjalanan arus ombak sering berubah-ubah. Menurut kapten kapal, saya lupa namanya, hal tersebut disebabkan karena banyaknya pulau-pulau kecil yang kami lewati. Karena saya penasaran, karena baru juga berlayar di lautan luas seperti, saya banyak tanya tentang bagaimana cara berlayar. Yah setidaknya meskipun sedikit, saya mendapatkan ilmu tentang laut dan cara mengemudikan kapal kecil.

Kapal berlabuh di Pulau Padar kurang lebih jam 1/2 9 pagi. Tergolong pagi sebenarnya, tetapi matahari sudah terasa menyengat di kulit. Mungkin karena faktor pantai dan jarangnya pepohonan di Pulau Padar ini. Sebelum kami meninggalkan kapal, kapten kapal memberitahu kami bahwa waktu yang diberikan hanya satu jam. Waktu satu jam saya pikir waktu yang cukup untuk bisa trekking naik hingga turun kembali ke kapal. Namun ternyata tidak demikian.

Begitu kaki menginjak pantai, dengan mantabnya kami melangkah menaiki tangga selamat datang. Saya sebut selamat datang karena tangga tersebut belum jadi sepenuhnya. Hanya sejauh 50 meter ke atas saja yang sudah berbentuk tangga. Selebihnya hingga ke puncak bukit adalah jalur trekking bertanah dilengkapi dengan bebatuan beragam ukuran. Menurut informasi di ujung tangga, di Pulau Padar ini akan dibuatkan tangga hingga ke lokasi yang banyak digunakan oleh orang-orang untuk berfoto ria. Tujuannya tentu saja adalah untuk memudahkan para wisatawan untuk bisa sampai ke lokasi tersebut. Hanya saja menurut saya pribadi hal tersebut cukup mengganggu visual alami dari Pulau Padar itu sendiri.

Tidak jauh dari tangga selamat datang, Mama dan Kak Sefi sudah menyerah duluan. Alasannya karena melihat jalurnya yang mendaki sudah membuat mereka kewalahan. Mereka membiarkan kami terus naik dan memutuskan untuk menunggu di pantai. Dari bawah sebenarnya sudah terlihat titik yang akan kami tuju. Titik yang merupakan puncak bukit yang bisa melihat Pulau Padar dari ketinggian. Demi mengejar waktu kami mempercepat langkah dan sedikit lebih banyak menguras energi. Meskipun begitu, setengah jam trekking, kami baru sampai di pertengahan jalan. Ternyata jaraknya tidak sependek seperti yang saya kira sebelumnya.

Di pertengahan jalan sebenarnya saya sedikit bimbang untuk meneruskan perjalanan. Karena alasan waktu yang sebenarnya tidak cukup banyak untuk bisa digunakan trekking. Namun pada akhirnya saya bandel untuk meneruskan perjalanan hingga ke puncak bukit. Hal tersebut juga disetujui oleh yang lainnya. Hitung-hitung kapan lagi saya akan ke Pulau Padar lagi kalau tidak hari ini. Maka perjalanan saya lanjutkan kembali.

Belum benar-benar sampai di puncak, sudah banyak spot yang bisa digunakan untuk ber-selfie ria dengan latar belakang Pulau Padar bagian utara. Banyaknya wisatawan yang berhenti dan berfoto-foto membuat perjalanan sedikit terhambat karena jalur setapak yang dilalui tergolong sempit. Tak jarang dibeberapa titik kami juga harus bergantian untuk mempersilahkan lebih dulu wisatawan yang turun dari puncak bukit.

Dan setelah hampir satu jam kami sampai di puncak bukit. Tetapi ternyata dibalik bukit masih ada satu puncak lagi namun tidak terlalu jauh. Saya, Sefry, dan Romo Stef memutuskan untuk berjalan lebih jauh menuju ke puncak bukit satunya lagi. Mengabaikan jam tangan yang mengingatkan bahwa waktu kami untuk trekking sebenarnya sudah hampir habis. Kami baru berhenti ketika jalur sudah tidak mungkin dilalui lagi. Sebenarnya bisa dilalui hanya saja jalur tersebut hanya selebar kurang dari 2 meter dengan kiri kanan jurang yang langsung mengarah ke laut. Kami mengurungkan niat dan memutuskan untuk cukup sampai di situ saja.

Dari ketinggian barulah terlihat kontur Pulau Padar yang berbukit-bukit. Vegetasinya pun merupakan rerumputan hijau dengan sedikit pohon yang tumbuh di seluruh pulau. Jarak dari satu pohon ke pohon yang lainnya pun berjauh-jauhan. Di beberapa sisi juga terlihat pantai yang membentuk seperti teluk kecil. Di puncak inilah kami beristirahat. Saya duduk menikmati keindahan alam yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Titik kami berdiri merupakan titik sebelah selatan dari keseluruhan Pulau Padar. Saya tidak tau apakah sisi sebaliknya dari Pulau Padar bisa juga dijelajahi oleh wisatawan. Berdasarkan penglihatan mata jalur ke utara juga tidak jauh beda dengan jalur di arah selatan. Mungkin karena alasan keselamatan, kenyamanan, dan kelestarian lingkungan maka jalur ini yang memang dikhususkan untuk wisatawan.

Lagi-lagi waktu yang mengingatkan kami untuk segera kembali ke kapal. Destinasi selanjutnya masih menunggu kedatangan kami. Perjalanan turun bukit hanya kami tempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam. Setibanya di tangga selamat datang saya yang paling terakhir sudah merasakan tatapan tidak mengenakan dari arah kapal. Dan memang benar, 4 orang bule yang datang tepat waktu sudah kesal menunggu kedatangan kami. Hal tersebut juga diperjelas dengan pernyataan Mama yang memang sedari awal berada di kapal. Tapi ya apa boleh buat, mungkin sedikit bandel tidak ada salahnya untuk menikmati keindahan Pulau Padar ini.

Tinggalkan Balasan