Dolly Sekarang

Pada hari Jumat tanggal 16 Juni lalu, saya mengikuti sebuah acara yang bertajuk Miniwalk Dolly Saiki Fest. Acara ini diselenggarakan oleh pemerintah kota Surabaya yang masuk ke dalam rangkaian acara Dolly Saiki Fest yang berlangsung dari tanggal 13 Mei hingga 16 Juli 2017. Miniwalk Dolly Saiki Fest sendiri merupakan acara yang mengumpulkan penghobi fotografi di Surabaya untuk melihat dan memotret bekas lokalisasi terbesar di Asia Tenggara ini.

Semenjak ditutup pada bulan Juni 2014, saya belum sempat lagi untuk mampir di daerah Dolly dan Jarak. Karena penasaran dengan keadaan Dolly yang sekarang maka saya putuskan untuk mengikuti kegiatan Dolly Saiki Fest. Pikir saya dengan mengikuti kegiatan ini saya tidak canggung untuk keliling kampung-kampung warga bekas lokalisasi dengan menenteng-nenteng kamera. Selain karena sungkan, dengan mengikuti kegiatan semacam ini setidaknya ada pemandu yang menerangkan. Terlebih saya berbaur dengan para penghobi fotografi lainnya sehingga warga sekitaran Dolly juga menjadi maklum.

Kegiatan diawali dengan mengunjungi gedung bekas Wisma Barbara. Wisma Barbara merupakan yang terbesar di Gang Dolly dan memiliki bangunan setinggi 6 lantai. Bangunan ini kini beralih fungsi menjadi Broadband Learning Center (BLC) yang dimiliki oleh pemerintah kota Surabaya. Saat ini BLC masih dalam proses pembangunan dan belum digunakan. Entah karena alasan apa, di BLC saya lupa memotret bagian dalamnya. Yang saya potret justru pemandangan kota Surabaya dari lantai 5. Ya karena memang pemandangan dari lantai 5 cukup indah menampilkan pemandangan kota Surabaya.

Kegiatan dilanjutkan dengan berlajan menyusuri kampung-kampung di daerah Kupang dan Putat Jaya. Kampung-kampung tersebut juga merupakan bekas lokalisasi Dolly dan Jarak. Awalnya saya tidak menemukan sesuatu yang menarik ketika berjalan di kampung-kampung tersebut. Yang terlihat dari luar ya cuma bagian rumah yang dicat warna-warni. Lalu ditembok yang kosong dilukis dengan mural yang indah dan dihiasi dengan pot-pot tanaman untuk menambahkan kesan hijau. Tetapi masuk lebih ke dalam saya menemukan beberapa hal yang menarik, bagi saya sendiri tentunya.

Yang pertama adalah bekas wisma dan panti pijat plus-plus yang beralih fungsi menjadi tempat kos atau rumah tinggal biasa. Meskipun sudah berubah fungsi, ciri khas rumah dengan bilik-bilik kamar prostitusi masih tetap dipertahankan. Dan bilik-bilik kamar tersebut dimanfaatkan menjadi tempat kos sebagai salah satu sumber penghasilan. Dari kegiatan ini juga saya baru tau, ternyata rumah warga yang bukan merupakan tempat prostitusi mempunyai tanda khusus. Tanda khusus tersebut adalah papan bertuliskan ‘Rumah Tangga’ yang ditempel di depan rumah. Kebanyakan yang saya lihat papan tersebut diletakan di ambang pintu depan.

Hal menarik selanjutnya adalah banyaknya Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang dikembangkan oleh warga baik secara perseorangan ataupun kelompok. UKM-UKM tersebut dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar bekas lokasisasi Dolly dan Jarak. Dari beberapa warga yang saya tanyakan sambil lewat, UKM-UKM tersebut dibangun dengan bantuan dari pemerintah. Tapi tak sedikit juga beberapa UKM dikembangkan dengan modal perseorangan.

Kehadiran UKM-UKM ini tentunya menjadi sumber ekonomi baru bagi warga bekas lokasisasi Dolly dan Jarak. Pada akhirnya mereka terbebas dari sumber ekonomi yang berasal dari bisnis prostitusi. Pemerintah dalam menutup lokalisasi Dolly dan Jarak tentunya tidak lepas tangan begitu saja. Beragam pelatihan untuk mengembangkan keterampilan warga sering diselenggarakan. Hasil dari UKM-UKM tersebut juga dibantu secara penjualannya agar lebih dikenal oleh masyarakat. Informasi ini saya peroleh dari beberapa orang warga, dimana warga tersebut ikut ambil bagian dari UKM-UKM tersebut.

Kegiatan Miniwalk Dolly Saiki Fest akhirnya kembali lagi ke titik awal di Lapangan Futsal Gang Dolly yang baru diresmikan diawal bulan Juni lalu. Panitia menganjurkan untuk tidak pulang dahulu karena Walikota Surabaya, Bu Risma juga datang ke Gang Dolly untuk mengikuti buka bersama bareng warga. Karena lapar dan haus, meskipun tidak puasa, saya juga ikut-ikutan untuk mengambil jatah buka puasa. Hitung-hitung menghemat pengeluaran dan merasakan sensasi buka bersama bareng walikota.

Masih teringat pengalaman pada masa SMA saya menjelajah kawasan Dolly dan Jarak ini menggunakan sepeda motor. Tidak jalan kaki tentunya, karena takut ditarik dan dipaksa untuk masuk ke dalam ‘aquarium’. Dentuman musik yang beragam dan keras terdengar melantun hampir di setiap wisma. Para mucikari memanggil-manggil pria-pria yang lewat untuk menawarkan atau sekedar melihat para wanita penghibur dari kaca. Dan duduk di sofa, berpakaian seksi dan berdandan cantik, para wanita penghibur dengan sabar menunggu gilirannya untuk bertugas. Kini semua itu tinggal menjadi cerita dan semoga akan tetap bertahan menjadi cerita untuk seterusnya.

Tinggalkan Balasan