Candi Cetho Karanganyar dalam Dekapan Lereng Gunung Lawu

Gas sepeda motor Scoopy yang saya bawa sudah hampir mentok dan mesin menderu dengan kencangnya. Tanjakan terakhir menuju Candi Cetho memang terbilang curam untuk ukuran sepeda motor matic yang saya bawa ini. Hampir sampai di depan gerbang terlihat 2 orang, yang satu di sebelah kiri dan satu di sebelah kanan, menunjukan lahan parkir untuk menyimpan motor saya. Saya memilih yang sebelah kanan karena saya pikir lebih dekat dengan loket tiket masuk Candi Cetho Karanganyar. Karcis parkir segera disodorkan kepada saya begitu masuk ke lahan parkir dan tandanya saya harus membayar sebesar Rp. 2000,00.

Usai memarkir sepeda motor dengan rapi, saya segera membeli tiket masuk di loket. Harga tiket yang ditentukan untuk wisatawan lokal adalah Rp. 7000,00. Bersamaan dengan diberikannya tiket masuk, bapak penjual tiket mengarahkan saya untuk pergi ke samping loket untuk mengenakan sarung khusus. Di Candi Cetho ini pengunjung juga diwajibkan menggunakan sarung khusus yang sudah disediakan oleh pengelola. Hal ini mungkin karena sampai saat ini Candi Cetho masih digunakan untuk tempat peribadan umat Hindhu sehingga dengan mengenakan sarung tersebut pengunjung terkesan lebih sopan saat memasuki tempat ibadat.

Kompleks Candi Cetho didirikan pada tahun 1397 saka atau 1475 masehi berdasarkan prasasti yang ditemukan pada dinding gapura teras ke VII. Saat ini, Candi Cetho secara administratif berada di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah dan memiliki ukuran panjang 190m dan lebar 30m. Pola halaman dari kompleks Candi Cetho ini dibangun berteras dengan susunannya berjumlah 13 teras meninggi ke arah belakang. Dari loket pintu masuk saja bisa dibilang halamannya sudah mulai berteras. Untuk teras yang pertama ini cukup tinggi. Pengunjung diharuskan mendaki anak tangga yang lumayan banyak untuk sampai ke gapura atau gerbang depan dari kompleks Candi Cetho ini.

Sesampainya di gapura Candi Cetho saya beristirahat sejenak karena kelelahan. Ketika melihat ke arah barat saya dibuat terpesona dengan keindahan lereng Gunung Lawu bagian barat. Hamparan kebun teh Kemuning yang saya lewati sebelumnya nampak membentang kehijauan layaknya karpet yang menyelimuti bukit-bukit. Ladang-ladang masyarakat Karanganyar yang subur ditumbuhi berbagai macam sayuran yang membentuk petak-petak dengan ciri khasnya masing-masing. Hingga daratan Jawa Tengah dikejauhan yang dipenuhi dengan pemukiman penduduk. Hal tersebut nampak jelas oleh saya karena Candi Cetho memang berada di ketinggian 1496m dari permukaan laut dan terletak di lereng bagian barat dari Gunung Lawu yang membuat saya dapat melihat daratan Jawa Tengah dari ketinggian.

Tempat saya beristirahat, yaitu gapura Candi Cetho terlihat sangat megah. Banyak yang rela antri dan menunggu sepi, termasuk juga saya, untuk sekedar berfoto dengan latar belakang gapura tersebut. Karena memang gapura ini bisa dibilang fotogenik dan ikonik sekali dengan kompleks Candi Cetho. Dan karena alasan itu jugalah yang menjadi daya tarik sebenarnya bagi saya untuk mengunjungi Candi Cetho ini.

A post shared by Egi Eligius (@egieligius) on

Belakangan saya mengetahui kalau ternyata gapura dari Candi Cetho dianggap tidak original atau tidak sesuai dengan bentuk aslinya. Hal tersebut terjadi karena pada proses pemugaran ditahun 1975/1976 oleh Sudjono Humardani, proses pemugaran terhadap Candi Cetho didasari dengan “perkiraan” saja bukan pada kondisi asli. Dengan kata lain pemugaran tersebut tidak mengikuti ketentuan pemugaran cagar budaya yang benar. Selain gapura yang tidak sesuai dengan bentuk aslinya adalah bangunan kayu tempat pertapaan,  beberapa patung, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden. Terlepas dari original atau tidaknya beberapa bangunan di sini, kompleks Candi Cetho masih menyajikan keindahan dan memukau bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Puas beristarahat dan mengambil beberapa foto di gapura, saya segara melanjutkan perjalanan. Dari Gapura menuju ke teras-teras berikutnya menurut saya tanjakannya tidak begitu menyiksa daripada yang sebelumnya. Tangga-tangga penghubung antar teras di sini terasa lebih landai. Mungkin karena setelah melewati gapura, pengunjung mulai masuk ke kompleks utama candi.

Di halaman yang luas, saya tidak tau teras yang keberapa, terdapat sebuah arca yang diletakan secara datar di tanah. Dari informasi yang saya dapat, arca tersebut berbentuk arca garuda dan kura-kura yang diwujudkan dengan susunan batu di atas tanah membentuk kontur burung yang sedang membentangkan sayap. Di ujung arca itu juga terdapat arca phallus (kelamin laki-laki) yang bersentuhan dengan arca berbentuk vagina. Arca ini kemudian disatukan dengan bentuk garuda. Disekeliling arca ini terdapat pagar rantai untuk membatasi pengunjung agar tidak melintas di atasnya.

Lanjut lagi ke atas saya mulai memasuki teras yang digunakan sebagai tempat peribadatan atau pertapaan bagi umat beragama Hindhu. Teras pada bagian ini hingga teratas dapat ditemukan  bangunan-bangunan pendapa yang terbuat dari kayu yang mengapit jalan masuk candi. Pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat untuk berlangsungnya upacara-upacara keagamaan. Untuk teras-teras yang ada pendapanya, dapat ditemukan juga gapura seperti gapura yang berada di bagian depan dari kompleks candi.

Mulai dari teras ini kabut mulai turun dan sedikit menutupi kompleks Candi Cetho. Udara perlahan juga semakin dingin karena sedikitnya sinar matahari yang masuk. Hal tersebut bagi saya membuat suasana Candi Cetho menjadi semakin agung. Mungkin memang saya saja yang terlalu berlebihan, tetapi saya merasa atmosfir Candi Cetho menjadi berbeda ketika diselimuti oleh kabut.

A post shared by Egi Eligius (@egieligius) on

Beberapa teras ke atas masih dapat ditemukan pendapa-pendapa kayu seperti di teras sebelumnya. Hingga sampailah saya pada puncak teras. Di puncak tertinggi ini terdapat bangunan batu berbentuk kubus yang digunakan untuk tempat pemanjatan doa. Bangunan ini beri pagar dan digembok. Sehingga pengunjung tidak bisa masuk ke dalamnya dan hanya bisa menikmatinya dari luar saja.

Yang membuat Candi Cetho unik adalah bentuk bangunannya yang berteras seperti punden berundak. Bentuk bangunan ini mirip dengan bentuk punden berundak masa prasejarah. Selain itu arca-arca yang berada di kompleks Candi Cetho masih sangat sederhana dan belum menunjukan ciri kedewaan. Arca-arca yang saya temukan lebih kepada arca manusia, arca phallus, arca kura-kura/penyu, dan lain sebagainya.

Melalui arca-arca tersebut dapat terlihat simbol-simbol dan mitologi yang menunjukan fungsi awal dari berdirinya Candi Cetho. Dulunya Candi Cetho digunakan sebagai tempat ruwatan atau tempat untuk membebaskan dari kutukan. Adanya simbol phallus dan vagina yang memenuhi kompleks Candi Cetho juga dapat ditafsirkan sebagai lambang penciptaan atau dalam hal ini adalah kelahiran kembali setelah dibebaskan dari kutukan.

Hingga sampai saat ini Candi Cetho masih digunakan sebagai tempat peribadatan dan tempat pemujaan bagi umat beragama Hidhu. Tak jarang Candi Cetho ini juga digunakan sebagai tempat pertapaan bagi penganut kepercayaan Kejawen. Namun Candi Cetho juga terbuka bagi umum sebagai tempat wisata sejarah. Bagi pengunjung seperti saya ini, berkunjung ke Candi Cetho dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai sejarah yang pernah hidup di negeri ini.

Masih dalam satu kawasan Candi Cetho ini, terdapat beberapa situs yang masih berkaitan dengan keberadaan Candi Cetho. Yaitu Candi Kethek, air terjun, dan Patung Saraswati. Karena waktu masih belum terlalu siang, saya memutuskan untuk mengunjungi ketiga situs itu juga.

*Nb
Trip saya ini merupakan satu kesatuan dengan trip:
Pesona Telaga Sarangan Magetan di Lereng Gunung Lawu
3 Objek Wisata di Sekitar Candi Cetho Karanganyar
– Touring Melewati Jalur Karanganyar – Magetan

1 tanggapan pada “Candi Cetho Karanganyar dalam Dekapan Lereng Gunung Lawu”

  1. Pingback: 3 Objek Wisata di Sekitar Candi Cetho Karanganyar - Egi Eligius

Tinggalkan Balasan