Bukit Kapur Jaddih dan Goa Pote Bangkalan Madura, 4 Juli 2017

Rencana untuk pergi ke Bukit Jaddih hampir saja gagal. Tepat ketika sebelum berangkat dari rumah, Mama bilang untuk jangan dulu pergi ke pulau Madura meskipun itu hanya ke daerah Bangkalan. Alasannya karena tidak terlalu lama ini ada kejadian begal di dekat kota Bangkalan. Peringatan dari Mama sempat membuat hati goyah dan paranaoid untuk melanjutkan perjalanan, apalagi saya menggunakan sepeda motor.

Tetapi setelah saya pikir ulang, kalau ngga jadi ke Madura emang mau ke mana lagi? Tempat yang banyak alamya juga jauh-jauh. Sebut saja Pacet atau Tretes yang ke sana aja perlu makan waktu 2 jam lebih jika menggunakan sepeda motor. Dengan ketetapan hati yang tidak terlalu mantab, karena sedikit ada rasa paranoid, akhirnya saya memutuskan untuk tetap pergi ke Bukit Jaddih Bangkalan Pulau Madura dengan seorang teman.

Jarak Bukit Jaddih memang tidak terlalu jauh dari Surabaya. Hanya memakan waktu kurang dari satu jam saja jika melewati Jembatan Suramadu. Untuk mudah dan cepatnya saya menggunakan aplikasi Google Maps. Hanya saja aplikasi ini menyebabkan saya melewati jalan yang terbilang sepi dan tidak terlalu banyak kendaraan bermotor yang lewat. Paranoid yang sudah memudar kembali datang. Akhirnya saya memutuskan untuk membuntuti mobil yang kebetulan menuju ke arah yang sama. Hitung-hitung cari teman yang searah biar kalau ada apa-apa tinggal teriak.

Jalan menuju pintu masuk Bukit Jaddih gampang-gampang susah untuk ditemukan. Penyebabnya mungkin karena palang penunjuk lokasi wisata yang kurang besar dan sedikit tidak terawat. Sehingga membuat saya sedikit ragu apakah jalan tersebut betul mengarah ke Bukit Jaddih atau tidak. Tetapi adanya truk pengangkut batu kapur yang keluar dari arah tersebut membuat saya lebih yakin bahwa memang inilah jalannya.

Sesampainya di lokasi Bukit Jaddih kami harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 5000,00 untuk sepeda motor beserta orangnya. Saya kira bayarnya cukup sampai di situ saja. Ternyata untuk menuju ke puncak Bukit Jaddih dan wisata Goa Pote harus bayar lagi masing-masing Rp. 5000,00. Jadi total biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 15.000,00. Sangat murah sebenarnya, tetapi entah kenapa bayarnya kok dipisah-pisah begitu.

Wisata Bukit Jaddih ini sebenarnya adalah salah satu lokasi penambangan batu kapur yang masih aktif hingga sekarang. Di beberapa titik dapat ditemukan excavator yang memahat tebing batu kapur untuk kemudian di angkut menggunakan truk. Penambang kapur juga dapat ditemukan di goa-goa tebing batu kapur untuk menambang secara manual. Hasil-hasil pahatan tersebut menghasilkan corak yang terbilang indah untuk dijadikan objek foto yang membuat lokasi ini menjadi tempat wisata.

Penjelajahan tempat wisata ini saya mulai dengan langsung menuju ke puncak Bukit Jaddih. Sepeda motor Vario 150cc harus saya kemudikan dengan hati-hati di sini. Jalannya yang menanjak dan berkelak-kelok membutuhkan konsentrasi mengemudi yang lebih. Ditambah karena memang lokasi tambang, jalanan tersebut dipenuhi dengan batu kapur yang membuat jalanan sedikit licin. Dengan sedikit perjuangan akhirnya sepeda motor berhasil saya kendarai menuju puncak.

Dari puncak Bukit Jaddih dapat dilihat bagaimana keseluruhan tempat wisata ini. Wisatawan yang berfoto ria di Goa Poteh. Mobil,truk, dan sepeda motor yang lalu lalang naik turun dijalanan yang berkelok. Excavator yang memahat batu kapur dengan truk yang menunggu tidak jauh dari situ. Pedagang yang menjajakan barang dagangannya.

Puncak Bukit Jaddih sendiri merupakan hamparan padang rumput dengan ditumbuhi beberapa pohon. Sepeda motor bisa digunakan di sini. Hanya saja perlu berhati-hati karena tanahnya merupakan tanah kapur dan dibeberapa sisi terdapat batu kapur yang menonjol ke permukaan tanah. Puas berfoto-foto kami memutuskan untuk istirahat dan berteduh dulu di bawah pohon. Karena memang waktu itu jam menunjukkan pukul 12.00 siang dan hawanya panas banget.

Perjalanan kami lanjutkan dengan sedikit menjelajah area tambang menggunakan sepeda motor. Sepeda motor memang dapat dengan bebas mengikuti jalur truk pengangkut batu kapur. Ini sedikit berbahaya menurut saya. Lebih baik dibeberapa sisi diberi batas wisatawan dapat berkunjung. Jika tidak, kemungkinan wisatawan yang penasaran akan masuk lebih dalam lagi ke area tambang batu kapur.

Tujuan akhir kami adalah Goa Pote yang terdapat di awal pintu masuk wisata. Goa Pote merupakan sumber air yang membentuk danau yang terbentuk secara alami. Menurut pedagang es kelapa muda yang saya beli dagangannya, lokasi tambang ini dulunya setinggi puncak Bukit Jaddih. Karena sudah lama dikeruk maka terjadilah seperti yang sekarang ini. Dasar dari kerukannya, dimana berlokasi di Goa Pote, mengeluarkan sumber air dan kemudian membentuk danau. Danau itulah yang kini juga menjadi penarik perhatian wisatawan untuk datang ke Bukit Jaddih.

Di Goa Pote ini kami memutuskan untuk tidak berlama-lama karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Setelah puas berfoto-foto kami segera melanjutkan perjalanan pulang menuju ke Bebek Sinjay untuk mengisi perut. Padahal terdapat satu lokasi lagi yang belum kami kunjungi yaitu Kolam Renang Goa Pote. Mungkin kapan-kapan jika ada kesempatan lagi saya akan ke sana.

Sedikit tips dari saya. Jika mengunjungi Bukit Jaddih lebih baik lewat jalan kota Bangkalan saja. Jangan seperti saya yang mengikuti arahan Google Map. Karena kata pedangang es kelapa muda tadi, jalan yang saya lalui saat berangkat ternyata jalan rawan terjadinya begal. Kalau melewati kota Bangkalan lebih aman karena lebih ramai lalu lalang kendaraan bermotor. Dan juga jika menggunakan sepeda motor, lebih baik pulang sebelum pukul 15.00 untuk menghindari begal. Ini patut menjadi perhatian karena dipintu masuk Bukit Jaddih sendiri diberi peringatan bahwa sering terjadinya tindak kejahatan begal di beberapa titik di daerah Bangkalan.

Tinggalkan Balasan