3 Objek Wisata di Sekitar Candi Cetho Karanganyar

Masih dalam satu wisata Candi Cetho, terdapat tiga obyek wisata yang bisa datangi oleh pengunjung. Letaknya pun tak jauh, namun karena letaknya di lereng gunung pengunjung harus sedikit mengeluarkan tenaga lagi untuk sedikit mendaki dan turun untuk bisa sampai ke tiga obyek wisata tersebut. Akses masuk menuju ke tiga obyek wisata tersebut berada di pintu keluar Candi Cetho pada teras ke 6 atau ke 7. Di pintu keluar ini juga terdapat warung-warung yang menjual makanan, minuman, dan juga berbagai macam oleh-oleh khas daerah Karanganyar yang bisa di beli oleh pengunjung.

Untuk mengunjungi ketiga obyek wisata ini, pengunjung dikenakan biaya lagi untuk membeli tiket masuk. Saat saya ke sana pada awal April 2018, tiket masuk yang harus dibayar adalah Rp. 5000,00. Setelah membeli tiket masuk, saya memutuskan untuk menuju ke yang paling jauh dulu, yaitu Candi Kethek.

1. Candi Kethek

Candi Kethek terletak kurang lebih 300m jauhnya dari Candi Cetho. Candi Kethek ini sepertinya tidak sepopuler Candi Cetho, karena sedikitnya pengunjung yang datang ke situs wisata ini. Namun saat ke sana, saya menemukan beberapa pendaki yang sedang bersiap hendak mendaki Gunung Lawu. Hal ini karena tempat berdirinya Candi Kethek memang merupakan jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho.

Nama Kethek diberikan oleh masyarakat sekitar karena di tempat ini sering dijumpai hewa kera. Kethek merupakan bahasa jawa dari binatang kera itu sendiri. Sama seperti Candi Cetho, latar belakang keagamaan dalam pembangunan Candi Kethek ini adalah agama Hindhu. Hal ini berdasarkan temuan arca kura-kura yang sering dikaitkan dengan mitologi dalam agama Hindhu, yaitu cerita Samudramanthana. Berdasarkan cerita tersebut dapat menunjukkan fungsi Candi Kethek sebagai tempat peruwatan untuk membebaskan seseorang dari kesalahan atau dosa.

Candi Kethek juga berbentuk teras berundak seperti Candi Cetho. Pada Candi Kethek terdapat empat teras yang dihubungkan dengan tangga. Pada puncak teras terdapat bangunan induk atau utama. Dalam teras puncak ini terdapat sebuah bangunan kecil yang diberi sarung hitam putih dan juga ada beberapa dupa yang dinyalakan di atasnya. Mungkin saja dupa tersebut merupakan bekas dari pengunjung yang habis berziarah.

Tidak banyak yang bisa dilihat di Candi Kethek ini. Namun untuk suasananya, Candi Kethek lebih damai ketimbang Candi Cetho. Mungkin karena di Candi Kethek ini lebih sedikit pengunjungnya. Jadi bagi pengunjung yang ingin merasakan damainya hutan lereng Gunung Lawu tanpa perlu mendakinya, di kawasan Candi Kethek ini bisa menjadi pilihan. Setelah puas memandangi Candi Kethek, saya memutuskan untuk pergi ke obyek wisata berikutnya.

2. Air Terjun Serendeng

Air terjun ini tidak begitu jauh dari Candi Kethek. Dari arah pintu masuk terdapat jalan bercabang. Yang satu menuju ke Candi Kethek dan yang satu menuju ke air terjun Serendeng. Pada saat membeli tiket masuk, saya sudah diberitahu oleh petugas bahwa keberadaan air terjun Serendeng ini bergantung pada musim. Air tejun Serendeng akan ada airnya jika saat musim hujan. Dan jika pada musim kemarau maka tidak ada aliran air di air terjun ini. Atau dalam kata lain air terjun tersebut mati.

Saya kurang beruntung saat mengunjunginya pada awal bulan April kemarin. Air terjun Serendeng tidak mengalirkan airnya sama sekali. Yang ada hanyalah dinding batu kosong yang dipenuhi lumut dengan tumbuhan khas air terjun yang menghiasi di sekelilingnya. Entah karena alasan apa sehingga tidak adanya air yang mengalir saya juga tidak tau. Padahal pada saat itu masih tergolong pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau. Intensitas hujan yang turun juga lumayan deras.

Belakangan saya lihat dari gambar di Google, air terjun ini lumayan deras aliran airnya yang dapat dijadikan pilihan bagi pengunjung untuk bermain air. Alhasil saya hanya duduk-duduk saja pada bebatuan yang kering. Terlihat masih ada genangan air tersisa di beberapa sisi. Entah itu genangan yang disebabkan oleh aliran air atau dari air hujan saya juga tidak tau. Tidak berlama-lama di air terjun Serendeng yang mati ini, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali.

3. Puri Taman Saraswati

Dari obyek wisata lainnya yang berada di kawasan wisata Candi Cetho, Puri Taman Saraswati mungkin terlihat sedikit kontras. Hal ini karena keberadaan obyek wisata ini tergolong baru dibandingkan dua candi sebelumnya. Puri Taman Saraswati diresmikan pada tahun 2007 oleh Bupati Karanganyar dan Bupati Gianyar Bali sebagai kerjasama antar daerah. Dari informasi yang saya dapat ternyata penduduk desa Gumeng yang menempati daerah sekitar Candi Cetho ternyata masih memiliki garis leluhur yang sama dengan penduduk Gianyar Bali.

Obyek utama dari situs wisata Puri Taman Saraswati adalah patung Dewi Saraswati itu sendiri. Patung tersebut didatangkan langsung dari Gianyar Bali. Menurut kepercayaan umat Hindhu, Dewi Saraswati adalah dewi yang memiliki paras cantik yang memiliki singgasana di atas Padma, yaitu kelopak bunga teratai yang diusung oleh sepasang angsa. Patung Dewi Saraswati ini digambarkan memiliki empat lengan yang masing-masing lengannya memegang satu pusaka, yaitu Wina, Aksamala, Damaru dan Pustaka. Patung tersebut didirikan di atas sebuah kolam yang dihiasi dengan air mancur.

Puri Taman Saraswati ini memang digunakan sebagai tempat pemujaan bagi umat beragama Hindhu. Namun karena banyaknya wisatawan yang datang, puri ini juga dibuka untuk wisatawan umum. Pengunjung di sini diharuskan menaati peraturan yang diberikan oleh pengelola. Sebagai contohnya saat memasuki area Puri Taman Saraswati pengunjung diharuskan melepaskan alas kaki. Hal ini berlaku di area khusus disekitaran Patung Saraswati.

Selain patung Dewi Saraswati terdapat juga obyek lainnya di area Puri Taman Saraswati. Obyek lainnya yang juga terkenal adalah sumber mata air alami yang bernama Sendang Pundi Sari. Sendang ini terletak di sebuah bangunan yang terbuat dari dinding batu dengan atap seperti kain transparan. Di atas sndang ini terdapat sebuah pohon yang akarnya menjulur di dinding bangunan. Akar dari pohon tersebut bahkan terlihat juga sampai ke dalam sendang.

Sendang ini digunakan untuk tempat penyucian sebelum melakukan sembahyang dan juga digunakan sebagai ritual keagamaan Hindhu. Di sendang ini dapat ditemukan bunga-bunga yang menghiasi permukaan kolam dan juga uang-uang logam yang terletak di dasar kolam. Sepertinya air sendang ini juga bisa dibawa pulang oleh pengunjung. Karena saya lihat pada warung yang berada di kawasan Puri Taman Saraswati dijual beberapa botol atau jerigen kecil sebagai wadah air.

Obyek lainnya yang dapat ditemukan di kawasan ini adalah Pura peribadatan yang dibangun dari kayu. Tak banyak yang saya lakukan di sini. Setelah melihat dan memotret Sendang Pundi Sari dan Patung Dewi Saraswati saya hanya duduk-duduk di bangku untuk beristirahat sambil menikmati suasana hutan lereng Gunung Lawu. Suasana di sini begitu tenang dan damai. Mungkin karena alasan itu jugalah yang membuat Puri Taman Saraswati ini berdiri.

*Nb
Trip saya ini merupakan satu kesatuan dengan trip:
Pesona Telaga Sarangan Magetan di Lereng Gunung Lawu
– Candi Cetho Karanganyar dalam Dekapan Lereng Gunung Lawu
– Touring Melewati Jalur Karanganyar – Magetan

Tinggalkan Balasan